Media Digital vs Media Cetak
Agustus 18th, 2011 § 28 Komentar
“Bagaimana menurutmu ‘nasip’ media cetak di era digital yang semakin berkembang ini? Bisakah buku cetak bertahan?”
“Bisa,” jawabku PeDe.
“Yakin sekali,” kata sang penanya diikuti senyum.
“Karena menurut saya walau bagaimanapun untuk membaca dalam jangka waktu yang lama masih lebih nyaman membaca di buku daripada di komputer. belum lagi untuk mengakses informasi dengan cara digital membutuhkan perangkat komputer, laptop, dan lain sebagainya yang pada kenyataannya belum semua kalangan mampu untuk memilikinya.
“Tapi, beberapa waktu terakhir ini beberapa koran nasional mengakui adanya penurunan oplah penjualan karena banyak orang beralih dari berlangganan koran cetak dengan mengaksesnya melalui internet. Bagaimana menurutmu cara meningkatkan penjualan yang menurun seperti fenomena tersebut?”

Perbincangan mengenai nasib media cetak berkaitan dengan kemajuan teknologi dan maraknya era digital memang marak di dunia penerbitan, baik penerbitan buku, majalah, maupun koran. pergeseran dari media cetak pada media digital mau tidak mau sedikit banyak membuat para pelaku industri penerbitan memikirkannya. (Atau banyak ya…)
Baru dua hari yang lalu menjawab pertanyaan seputar fenomena era digital ini dengan yakin, aku menemukan catatan singkat dari Bang Tommy Satryatomo di salah satu milis.Beliau yang selama ini menjadi konsultan konten digital di Penerbit Mizan mengatakan bahwa prediksi bahwa pada akhirnya buku cetak akan tetap eksis namun sebagai barang koleksi mulai menjadi kenyataan. Masih menurutnya, Pemerintah Inggris mulai menyediakan insentif pajak dan berbagai kemudahan lain sebagai upaya untuk mencegah buku-buku para sastrawan Inggris dibeli oleh museum-museum Amerika.
Masih kata Bang Tommy lagi, selang sehari setelah dirilisnya buku-buku Mizan dalam bentuk digital, beliau langsung dikontak oleh perpustakaan Kedubes Australia di Jakarta dan diminta daftar buku-buku digital Mizan.
Hmmm…
Jadi, bagaimanakah kiranya nasip media cetak kelak?
sumberfoto:om google
Ya menurut saya masih bisa bertahan untuk beberapa tahun kedepan. Karena ya masih nyaman membaca di buku kalau membacanya butuh waktu yang lama
setujuu…hehehe
Hehe
btw, mampir dulu ah
Kalau saya pribadi memang lebih nyaman baca buku daripada ebook. Juga lebih memilih baca berita atau liputan di koran ketimbang baca di situs berita online, karena lebih santai, bisa dibaca di mana saja, dan nggak bikin mata cepat lelah, hehe….
Saya yakin media cetak akan tetap bertahan, walau mungkin tetap akan terjadi penurunan…
Salam kenal
hidup media cetak! #eh :d
mengikuti perkembangna jaman, dan cinta lingkungan mengurangi global warming, saya lebih condong ke digital
boleh..boleh..boleh.., atau mungkin membuat media cetak yg bisa di daur ulang? hehe
media cetak sama media digital sama-sama penting menurutku, sama-sama memberikan informasi dan pendidikan, tergantung kitanya saja yang harus pandai memilih sesuai kebutuhan
betul banget itu zhera
kita harus pintar memilih, memilah, mana berita yang benar-benar aktual tajam dan terpercaya di media digital, btw mohon maaf lahir dan batin ya apabila ibnu punya salah ketik ketika komen hehe
betul banget..mesti jeli memih dan memilah informasi..
mohon maaf lahir batin jg..*sangat telat blsny
hmm…mungkin karena ebook lebih praktis kali ya, juga lebih murah [bisa download gratis, he]
tapi punya buku cetak jauh lebih berasa puas daripada koleksi ebook
klo buku cetak bisa disentuh setiap saat ya puch..
dua2nya sama2 bagus koq..
11-12 lah
*tp punya buku emang lebih menyenangkan, apalagi klo sampe akhirnya nulis buku (masih terobsesi menulis buku =)
ayoo, kita menulis buku…
[...] Adia, sudah selesai nih ya PR-nya. Aku bagikan tugas selanjutnya ke Niefha, Teh Ika, dan ehmm… siapa ya?? Oh… Aulia, si teman TK dan SMA-ku Selamat menjalankan tugas, [...]
wiihhh, aku belum ngerjain PR..tutup mukaaa biar ga ketahuan :d
hohoh…mbak mampir baca,
hai dy..lama tak basuo :d
kmaren ktemu ma reporter ummi, kabarnya annida bakalan ada versi cetak lagi hehehe hidup annida!!!
kwereen..jd berpikir buat ekspansi ke sana.. :d
assalamualaikum hehe…
alaikumsalam, neng shireeennnn….syusyah nian posting komen di blogmu, ah sepertinya aku yg gaptek..
seperti bagde yang selalu nangkring di sidebar blogku, “I pledge to read the printed word.” hehe. sensasi baca buku yang dicetak itu sama sekali beda dengan baca di layar. dan seperti yang dibilang diatas, orang kurang betah baca berlama-lama di layar komputer.
bisa dibaca di atas pohon juga :d
aduh jangan sampe dong.
sayang… aku bisa lebih fokus baca buku fisik. beberapa waktu lalu aku melihat buku2 di gramedia yang dijual dengan harga yang lumayan premium. padahal kalo dikira2 buku2 itu bisa aja dijual lebih murah. mungkin itu bertujuan menaikkan prestise buku menjadi eksklusif kembali. tapi itu cuma anggapanku sih. aslinya sih gaktau. yang pasti aku harap jangan sampai buku ‘punah’.
waduh aku baru liat ternyata aku udah pernah komen di postingan ini.
sori ya mbak…
kykny krn terlalu khawatir bakal ga bisa baca buku di atas pohon lg klo semua buku beralih ke digital
eh, tapi sekarang mah tetep bisa baca ebook di atas pohon asal baterai perangkatnya penuh
klo mslh harga, mungkin jg pertimbangan biaya produksi,
pdhl scara pribadi ingin jg tuh ada buku berkualitas yg murah biar terjangkau semua lapisan masyarakat (mksdny biar aku jg bisa borong buku banyak..hihihi)