Menjaga Nyala

Februari 13, 2017 § 2 Komentar

Ketika hari, bulan, tahun telah berbilang, dan derai hujan tak lagi terhitung, ada hal-hal sederhana yang tiba-tiba menjadi rumit. Hal-hal rumit bertambah-tambah kadarnya.

Ada nyala yang meredup, bahkan hampir mati.

Nyala kebaikan yang dahulu serupa api membakar kayu bakar, sangat mudah berkobar sekali patik, tetiba membeku. Membutuhkan puluhan, bahkan ratusan batang korek api untuk memanggilnya.

Nyala keberanian yang dulu berjuluk singa, tetiba berubah seperti kapas. Melayang-layang mengikuti tiupan angin.

Apakah telah tiba hal ini padamu?
Riuh kebaikan kaupandangi bersama getar rindu, tetapi kakimu terpaku.

Lalu, kau melempar tanya, “Pada siapa harus mengadu?”
Sebelah hatimu menjawab, “Pada Dia yang menciptakan rindu dan menjadikan hatimu biru.”

Namun, kau tak mau tahu.

:. Juanda, 13.02.2017

Janji Januari

Februari 1, 2017 § Tinggalkan komentar

​Telah pergi ia. Satu. Dua. Tiga. Sewindu. Waktu berlalu. Meninggalkanmu yang terus termangu. 

“Waktu telah mengkhianatiku,” ujarmu kelu. “Menghujaniku beribu penyesalan,” lanjutmu pilu.

Kaulupa. Bukankah waktu pula yang selalu mengulurkan tangan-tangannya. Mendekapmu erat dan menggenggam jemarimu hangat. Menuntunmu melewati belukar hari.

Bukankah Januari hari ini juga telah pergi? Membawa segenap keresahanmu seraya berjanji akan menemuimu dengan nuansa pelangi?

Kau hanya harus percaya pada-Nya. Seutuhnya.

Margonda, 01.02.2017 

Hilang

Januari 30, 2017 § 2 Komentar

“Bisa jadi penyesalan hanyalah wujud kesedihan yang mendalam atas harapan yang diam-diam hilang.”

Sekali waktu, ada yang diam-diam hilang dari logikamu, dari kecerdasan dan ketelitianmu dalam mengukur segala sesuatu. Kamu pun sempurna kehilangan dirimu.

Lalu, sekali waktu, diam-diam hilang dari rautmu, lengkung senyummu. Duniamu seakan berhenti. Yang kau inginkan hanya duduk berdiam diri sambil membaca atau sekadar bermain dengan gadgetmu—atau bahkan benar-benar hanya berdiam. Tak melakukan apa pun.

Diam-diam segala keriuhan tak lagi menarik hatimu, petualangan tak lagi menantangmu. Tak ada lagi yang ingin kamu taklukkan.

Lalu, dalam diammu kamu menyesali hal-hal yang telah berlalu. Kecerobohanmu menjatuhkan pilihan. Mengikuti perasaan—yang sebenarnya kau pun tahu takada kebenaran di sana.

Menjaga Perasaan

Februari 26, 2016 § 4 Komentar

Ketika perasaanmu bergerak seperti roller coaster, perkara remeh temeh cepat membengkakkan hati dan untaian kata sederhana meningkatkan denyar jantung.

Saat seperti itu, katupkan saja bibirmu rapat-rapat. Kunci baris kata yang ingin menghambur keluar.

Urusan ini tak sesederhana yang kau kira. Ingatlah olehmu, bersamaan dengan luruhnya kekuatan hati menahan gusar dan kecewa, ada jarak yang merenggang pelan-pelan antara kau dan Dia.

Bisa jadi, sedalam apa luka menggores hatimu bukanlah karena besarnya sayatan, tetapi karena jauhnya Dia Yang Mahakuat dari hidupmu.

Juanda, 26.02.2016

Ketidakberterimaan

Februari 14, 2016 § 1 Komentar

“—bisajadi—ketidakberterimaan terhadap hidup dan dirilah yang menjadi pangkal rumitnya memandang dan menjalani kehidupan ini.”

Ia—ketidakberterimaan—memberatkan perasaan, menyempitkan hati, menggelapkan jalan. Ia menggiring segenap pikiran dan perasaan hanya untuk meratapi keadaan yang menurutnya tak sempurna. Padahal, apalah yang sempurna di dunia ini selain ke-Mahakuasa-an-Nya.

« Read the rest of this entry »

Jarak

Februari 9, 2016 § 3 Komentar

Ia bukan tentang angka-angka, tentang jauh dan dekat, tentang sempat tak sempat, apalagi tentang waktu.

Ia sepenuhnya tentang hati….

Sketsa Ruang Tunggu

Januari 17, 2016 § 5 Komentar

“Bila kau tak benar-benar tahu kehidupan seseorang, tahanlah diri untuk melontarkan tanya yang bisajadi menyakitkan; apalagi hanya dengan alasan, menurutmu caranya menjalani hidup tak sesempurna caramu.”

Stasiun Jatinegara selepas tengah malam. Kereta-kereta malam antarprovinsi mulai berdatangan. Satu per satu penumpang turun.  Ada yang langsung melanjutkan perjalanan, ada yang bertahan di ruang tunggu—entah menunggu jemputan, atau sekadar menunggu pagi.

« Read the rest of this entry »