Memintal Syukur

November 28, 2009 § 4 Komentar

Memang, Allah tak pernah salah. Ayat pertama yang diberikan untuk kita melalui sang pembawa pesan adalah kunci untuk hidup yang benar-benar hidup. BACALAH! Begitu kalimat pendek itu diperintahkan.

“Bacalah tak hanya dengan matamu segala yang ada. Bacalah dengan hatimu, bacalah dengan telingamu, bacalah dengan pikirmu, bacalah dengan segala indra yang telah Kulengkapkan pada paket penciptanmu sehingga kamu tersebut sebagai SEBAIK-BAIK PENCIPTAAN.” Begitu Allah menjelaskan satu kata itu.

BACALAH, niscaya kamu akan HIDUP.

Pintalan pertama,

A         : “…kok, hidup begini amat yah… .”

B         : “Jenuh, Ka!” Lelah. Pagi sampai sore ful kerja, deadline numpuk, malam musti begadang. Sampe kapan mesti begini?! Pengen punya usaha sendiri euy. Punya ide?”

Tak jarang, mungkin hampir semua dari diri pernah memiliki perbendaharaan kata tersebut. Entah sempat terucap atau tertelan lagi demi mendengar orang lain telah mengeluarkan kata yang sama. Atau, merasa memiliki beban hidup yang begitu berat, kesedihan yang seakan tak pernah berujung karena beberapa keinginan yang seperti enggan mendekat sampai-sampai melupakan telah dipenuhi-Nya segala butuh yang melampaui batas ingin.

Pintalan kedua,

“Tau ga, Ka?! Kemarin si Dede mukanya disikat sama bapaknya pake sikat baju. Gila (maaf) emang tu orang. Mana sebelumnya katanya pernah disudut pake rokok juga badannya.

Dede, anak kecil berumur 3 tahun. Golden ages. Tapi, diumurnya yang harusnya dimaksimalkan untuk kecerdasannya, kenyataan lain terpaksa harus diterima. Lalu, masih enggankah diri untuk sejenak mengurai kisah masa kecil. Mengingat kehangatan dan cinta yang melimpah.

Pintalan ketiga,

Tubuhnya mulai merenta. Kayuhan kakinya tak lagi sekuat dulu. Tapi, semangat mencari rezeki demi keluarga masih tetap sama. Batuk sesekali menyela nafasnya yang memburu karena beban berat di becaknya. “Hari ini harus ada beras yang bisa kubawa pulang.” Gumamnya.

Mukanya lelah, baju basah dan lusuh. Berkali-kali bolak-balik gang kecil sambil memanggul jerigen air. Langkahnya selalu tergesa, mungkin berharap segera sampai tujuan untuk kemudian meletakkan beban dan menerima lembar 2 ribuan.

BACALAH, niscaya kamu akan HIDUP.

Bacalah, niscaya benang kesyukuran yang mulai mengusut akan kembali menyatu dalam pintalan. Ketakjuban atas kebaikan-Nya untuk hidup diri niscaya akan tumbuh. Dan, diri akan mengucap, “Aku lebih beruntung dari banyak orang.” Dan, saat itulah Allah akan menambahkan kenikmatan-Nya.

“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim: 7)

20:52 WIB, 27.11.09 WIB

My room

:. Ied Adha kesekian di Bandung

§ 4 Responses to Memintal Syukur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Memintal Syukur at langit LANGIT.

meta

%d blogger menyukai ini: