Review Libri di Luca

Januari 20, 2010 § Tinggalkan komentar

Judul     : Libri di Luca (Rahasia Pencinta Buku)

Penulis : Mikkel Birkegaard

Genre   : Fiksi

Penerbit: Serambi

Halaman: 588

Finished!

Yakfiy!

Itu kata pertama kali yang ingin saya teriakkan. Selanjutnya, masih menyapukan pandangan ke seluruh ruang baca Bibliotheca yang berada di lantai atas. Buku berserakan, mayat bergelimpangan. Merasai bau hangus buku terbakar dan percikan-percikan listrik akibat kekuatan Jon Campelli sebagai Lektor pemancar yang dahsyat dan ulah organisasi bayangan. Di ujung, dekat mimbar, tampak Remer si ketua ordo organisasi bayangan sedang terus membaca buku hitam yang dipegangnya, tapi tampak jelas wajahnya tidak sesantai tadi, wajah pucat pasi dan darah mulai merembes dari lubang hidung dan telinganya. Dia sedang berjuang dengan maut akibat ketamakannya sendiri.  Sementara, Jon Campelli berjalan melintasi sambil tersenyum tipis, seakan mau mengatakan, “Kami tunggu Anda di Libri di Luca”. Dia berjalan dibantu Katherina karena kakinya terkilir saat berusaha melawan Remer. Mereka tampak sedikit terburu-buru.

Saya melongo kemudian menggumam, “Kira-kira aku pemancar atau penerima ya?”

Whooowww… . begitulah Mikkel Birkegaard  (saudaraan sama Kirkegaard , kah??) mengajak bertualang dari Kopenhagen, Denmark sampai ke Bibliotheca Alexandrina, Alexandria, Mesir. Berawal dari perpustakaan milik keluarga Campelli yang bernama Libri di Luca.

Tidak banyak orang yang tahu rahasia lain dari Libri di Luca, selain hanya melihat sebagai sebuah perpustakaan biasa. Kecuali, orang-orang yang sudah bergabung dengan organisasi pecinta buku. Anggota organisasi ini memiliki keistimewaan bisa mendengarkan orang yang sedang membaca dari jarak yang jauh dan bisa mengendalikan pikiran orang tersebut. Menggiring persepsi yang ditangkap dari bacaan tersebut sesuai dengan yang diinginkan, membantu konsentrasi membaca atau membuyarkan, sampai membuat orang malas membaca buku itu. Ini keahlian Lektor Penerima. Sementara, Lektor   Pemancar memunyai kekuatan memengaruhi orang melalui buku yang dibacakan oleh mereka. Membacakan cerita dan membuat pendengarnya tenggelam bersamanya dalam cerita tersebut adalah keahliannya sambil memberikan tekanan emosi untuk lebih menguatkan cerita.

…..Sepertinya, Indonesia membutuhkan banyak Lektor berhati baik untuk mengadakan pembacaan terhadap orang-orang yang duduk di pemerintahan sehingga bisa menyuci otak mereka supaya pikirannya positif dan tidak pernah berpikir untuk korupsi…. ^_^.

Letupan kisah ini dimulai dengan terbunuhnya Luca Campelli, pemilik Libri di Luca setelah perjalanannya dari Mesir. Awalnya, semua orang menganggap kematian Campelli di perpustakaan sebagai suatu yang wajar, hingga terjadi pelemparan bom Molotov ke dalam perpustakaan itu. Jon Campelli, anak Luca, yang semula tidak terlalu peduli dengan ayah dan Libri di Lucanya mulai terusik kecurigaannya hingga memutuskan untuk minta diaktifkan sebagai Lektor.

Kematian Luca berbarengan dengan naik daunnya karier Jon sebagai pengacara. Jon mendapat kasus keren yang dapat melejitkan kariernya lebih tinggi lagi, yaitu kasus yang berhubungan dengan seorang pengusaha licin bernama Remer.

Jon tidak pernah mengira kalau pertemuannya dengan Remer justru merupakan awal dari perubahan hidupnya, karena ternyata Remer adalah seorang Lektor dari organisasi bayangan dan dalang dari pembunuhan ayahnya, Luca.  Ketika Remer mencium gerak Jon menyelidiki kematiaan ayahnya dan kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini, Remer tidak mau lagi menerima Jon sebagai pengacaranya dan ini mengakibatkan Jon dipecat dari kantor hukumnya.

Kisah selanjutnya dipenuhi dengan usaha Jon menguak organisasi bayangan dan berusaha menyatukan kembali Lektor penerima dan Lektor Pemancar yang sudah terpisah sekira 20 tahun. Serta tersadarkannya Jon bahwa Luca membuang Jon dari kehidupannya justru karena cintanya yang begitu besar pada Jon.

Pemecatan tanpa alasan yang diterima Jon dan keras kepalanya Remer ingin membeli Libri di Luca telah membuat Jon yakin Remer ada hubungannya dengan organisasi bayangan. Jon melacak Remer dan menemukan markasnya. Jon menyatroni markas tersebut tanpa menyadari kalau dia sedang dijebak karena ternyata ada pengkhianat di Libri di Luca.

Apa yang terjadi pada Jon? Jon disandra, dibawa ke Alexandria untuk dijadikan tumbal.

Di dunia nyata pun, benarlah kalau buku itu memiliki kekuatan untuk memengaruhi pikiran pembacanya. Menyuci otaknya dan akhirnya berperilaku seperti yang diinginkan penulis.

Keterlibatan saya sendiri dalam perjalanan Campelli dimulai saat ‘iseng’ search buku baru, baca judul yang unik terus kata-kata ‘rahasia pecinta buku’ langsung memasukkan judul ini ke list. Apalagi ketika ada kata Bibliotheca Alexandrina 😀 . Tapi, sempat tergilas hari sih, dan ingat saat ada teman tanya, “Novel yang tentang rahasia pecinta buku itu apa judulnya?” Daaannn….wuuusss…langsung terpatri, Aku harus beli! Meski sempat kehilangan greget di tengah cerita, dan terganggu dengan ‘interaksi’ Jon-Katherina, membaca dan membeli buku ini tidak membuat saya kecewa. Mungkin, jika karakter tokohnya diperkuat dan konfliknya dipertajam akan lebih yummy… .

15:08 WIB

20.01.10

Iklan

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Review Libri di Luca at langit LANGIT.

meta

%d blogger menyukai ini: