Pollyanna

April 19, 2012 § 3 Komentar

Judul                     : Pollyanna

Penulis                  : Eleanor H Porter

Genre                     : Novel anak

Penerbit                : OrangeBooks

Penerjemah         : Rini Nurul Badariah

Editor                     : Rinurbad & Dee

Cetakan  Mei 2010, 312 hlm

Tak perlu berlelah-lelah mencari. Karena ia ada di sini. Di hati kita sendiri. Itulah bahagia. Bahagia yang sebenarnya. Bahagia yang tak akan mudah pudar.

Ia akan hadir bersama dengan penerimaan hati, bersama buncahan syukur di dada, kesederhanaan dalam memandang sesuatu, dan ketepatan mengambil sudut pandang.

Pollyanna menjadi yatim piatu. Kondisi ini menyebabkan dia harus tinggal bersama dengan tantenya, satu-satunya keluarga yang ada, yang belum pernah dia temui karena dulunya ibunya meninggalkan keluarga besarnya dan tak pernah berhubungan lagi. Pollyanna membayangkan tantenya adalah tante yang penuh kehangatan, tapi ternyata dia salah. Tantenya adalah seorang perempuan yang mahal senyum dan tidak suka dengan ekspresi yang berlebihan. Pollyanna membayangkan akan memiliki kamar besar berkarpet yang dilengkapi dengan pajangan lukisan, cermin, dan udara yang sejuk, tetapi dia salah. Tantenya menempatkannya di loteng kecil yang panas tanpa karpet, lukisan, dan cermin. Dia membayangkan hal-hal yang menyenangkan, tetapi tak jarang yang didapat adalah sebaliknya.

Beruntung dia memiliki permainan sukacita yang dulu sering dia mainkan bersama ayahnya. Permainannya sederhana, bila kau menginginkan sesuatu dan ternyata kau tidak mendapatkannya, anggap saja bahwa kau tak menginginkan dan membutuhkannya.

“Dan aku senang di sini tidak ada cermin, sebab TIDAK ada kaca yang memperlihatkan bintik-bintik mukaku.” [Pollyanna, 34]

“Ya. Aku ingin boneka sebenarnya, dan Ayah mengatakan itu dalam surat, tapi ketika kotaknya datang, wanita yang membalas surat bilang yang ada hanya tongkat kecil. Maka, dikirimkannya benda itu kalau-kalau ada gunanya untuk anak tertentu, entah kapan. Dan, saat itulah kami mulai bermain.”

“Oh ya, memainkannya cukup dengan menemukan sesuatu yang bisa membuat kita senang dalam segala hal, tak peduli apa pun itu,” ungkap Pollyanna. [Pollyanna, 44]

Itulah yang coba untuk dicontohkan gadis cilik berumur 11 tahun, Pollyanna. Lihatlah dunia dengan sederhana dan ceria sehingga hari-harimu akan senatiasa berwarna. Tak ada hal yang menyedihkan, bila kita membuatnya menjadi menyenangkan. Melalui permainan sukacitanya, Pollyanna berhasil mengajak orang-orang dewasa yang berada di sekitarnya ikut menikmati hidup dengan ringan dan gembira.

Meskipun genrenya adalah novel anak, tapi novel ini tetap memiliki kekuatan menghentak emosi pembaca dewasa untuk larut dan mengambil pesan penting yang terangkai di sepanjang ceritanya bahwa meski kadang kita merasa hidup kita tak mudah, tapi ternyata kita masih lebih beruntung dari banyak orang sehingga kita layak untuk selalu bersyukur.

Tagged: ,

§ 3 Responses to Pollyanna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pollyanna at langit LANGIT.

meta

%d blogger menyukai ini: