2985 MDPL; Perjalanan Hati

September 21, 2014 § 17 Komentar

Gunung Gede, 13-14 September 2014

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mendaki gunung bukan hanya tentang menjawab tantangan, hobi, merehatkan diri dari hiruk-piruk hidup, atau sekadar menunjukkan kehebatan, apalagi pelarian.

Ia adalah perjalanan hati. Saat lelah telah menjadikan tubuh melemah, akankah hati tetap mampu memenangkan keyakinannya, keberaniannya, kasih sayangnya, kesabarannya, kesantunannya, kekuatan tekadnya, dan kebaikan-kebaikannya yang lain.

Ia adalah cermin. Yang kita dapat mengaca diri di setiap jengkalnya. Tentang bekal yang harus disiapkan, langkah yang dipertimbangkan, napas yang disyukuri, jiwa yang kuat, dan teman seperjalanan yang tepat.

Bersusah-susah menyiapkan bekal tak ada artinya dibanding kesusahan yang akan ditanggung bila tak ada bekal.  Langkah yang dipertimbangkan bukanlah ketakutan, ia adalah strategi untuk mencapai kemenangan. Sengalan napas mengingatkan bahwa napas ini pun bukan milik diri. Ia bisa habis kapan pun pemiliknya—Allah—mau. Jiwa yang kuat membantu mewujudkan keyakinan, mencapai tujuan. Karena selalu banyak godaan dalam perjalanan. Di pendakian, pohon tumbang laksana sofa yang menawarkan kenyamanan bersandar. Tanah sedikit lapang seperti ruang tamu yang ingin memanjakan kaki-kaki kita menyelonjor sambil mata memejam, tidur. Mengaburkan tujuan yang telah ditentukan. Dan, godaan itu semakin kuat ketika di sana telah banyak manusia lain sedang istirah.

Teman seperjalanan yang tepat adalah keberuntungan yang tak terbeli—dan aku mendapatkannya, Alhamdulillah—. Ia yang akan menguatkan saat lemah, meringankan saat berat, membimbing saat akan tersesat, tertawa bersama saat bahagia, dan saling melempar senyum saat sedih datang mendera.

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.”  [HR Muslim]

Dan kita teman, semoga adalah kumpulan ruh yang mencintai kebaikan. Berjuang menyelesaikan perjalanan kita sendiri, dan sesekali bertemu di sebuah titik untuk saling berbagi tawa juga tangis, untuk saling menguatkan, lalu kembali berpisah dan berjanji berkumpul di surga.

Ia adalah kamu. Iya. Kamu yang sedang berjuang mendaki hari-hari dan menaklukkan waktu demi keindahan puncak di keabadian yang menakjubkan—surga—. Kamu yang kadang letih, terseok, tertawa, menangis, kesal, dan marah, namun tak pernah menyerah. Kamu yang kadang menyebalkan, tetapi tak lelah membaikkan diri. Kamu yang….

*****

Pada kenyataannya, hidup tak semudah naik gunung. Sampai puncak, foto-foto, turun, dan kembali pulang. Namun, seperti naik gunung, dalam hidup ada turunan, tanjakan, indah pemandangan, terkilir kesakitan, menggigil kedinginan, juga kepanasan.[titintitan]

 

:. terima kasih untuk titien, tendi, rima, mba di, dan afik

Depok, untuk 13-14 September 2014

Iklan

Tagged: , , , , , , ,

§ 17 Responses to 2985 MDPL; Perjalanan Hati

Tinggalkan Balasan ke langit11 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 2985 MDPL; Perjalanan Hati at langit LANGIT.

meta

%d blogger menyukai ini: