Aku [mencintai] Januari

Januari 3, 2016 § 2 Komentar

Abstrak. Absurd. Gamang. Tak tahu arah.
Caranya menghabiskan hitungan jam dalam sekali bumi berotasi pada porosnya—menurutnya (yang suka mendramatisasi sesuatu)—tak lebih hanya sekadar gerak mekanik yang mendekati refleks. Baginya—serasa—tak ada yang istimewa dari berlarinya waktu. Pagi dan senjanya berulang begitu saja. Hingga Januari pun kembali menyapanya.

Meski tak pernah mampu, ia pernah ingin sesekali membenci Januari sembari berharap, sesaat waktu akan berhenti hanya sampai Desember.

Ia lelah dengan hidupnya.
Ia lelah dengan harapnya.
Ia lelah dengan prasangka baiknya.
Ia lelah dengan ketakutan yang menggerogoti keyakinannya.

Ia lupa, hidupnya bukanlah miliknya; ada Pemilik yang senantiasa menjaganya dengan sebaik-baik penjagaan.
Ia lupa, harapnya selalu direngkuh-Nya dalam dekapan yang utuh bernama cinta.
Ia lupa, prasangka baiknya membaikkan dirinya berkali lipat.
Ia juga lupa, tentang cara memaknai dan menjalani hidup yang sementara ini dengan sederhana.

Ia terlalu sering hanya melihat yang terlihat,
hanya menghitung yang dalam jangkauan,
hanya mendengar yang menimbulkan suara; bahkan itu pun hanya dipilih yang ingin didengar saja.

MUNGKIN KINI SAATNYA, sejenak memejamkan mata,
menghadapkan hati pada-Nya,
meniti titian dari-Nya dengan riang gembira.

 

:. Sepenuh syukur pada-Nya, untuk hidup yang tak apa adanya

Pondok Cina, 03 Januari 2016

Iklan

§ 2 Responses to Aku [mencintai] Januari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Aku [mencintai] Januari at langit LANGIT.

meta

%d blogger menyukai ini: