Sketsa Ruang Tunggu

Januari 17, 2016 § 5 Komentar

“Bila kau tak benar-benar tahu kehidupan seseorang, tahanlah diri untuk melontarkan tanya yang bisajadi menyakitkan; apalagi hanya dengan alasan, menurutmu caranya menjalani hidup tak sesempurna caramu.”

Stasiun Jatinegara selepas tengah malam. Kereta-kereta malam antarprovinsi mulai berdatangan. Satu per satu penumpang turun.  Ada yang langsung melanjutkan perjalanan, ada yang bertahan di ruang tunggu—entah menunggu jemputan, atau sekadar menunggu pagi.

Di ruang tunggu, akan kaudapati berbagai cara orang menikmati waktu. Tak akan pernah semua sama. Tak akan. Mungkin kau akan melihat ada yang menuju kafe, memesan minuman panas, lalu mencecap sedikit-sedikit. Ada yang duduk di kursi tunggu, memejamkan mata. Ada yang duduk di lantai, sibuk dengan ponselnya, lalu tertawa. Ada yang membuka laptop. Ada yang membuka obrolan dengan sesama penunggu, bertukar cerita, berbagi senyuman tanpa harus saling tahu nama dan rumah tinggal. Ada yang hanya duduk diam, memerhatikan lalu-lalang sambil sesekali menarik napas dalam-dalam.

Melihat semua itu, kadang, tanpa sadar kau memberi penilaian. Menilai ia yang bergegas mencari minuman hangat di kafe hanya karena gaya hidup saja, padahal kau tak tahu ia sedang berjuang keras mengatasi rasa nyeri paru-parunya akibat terlalu lama terpapar udara dingin dengan meminum minuman panas di kafe itu.

Kau juga menilai ia yang memejamkan mata adalah orang ceroboh, padahal kau tak tahu ia begitu karena kelelahan yang sangat setelah segala aktivitasnya.

Kau menilai ia yang asyik dengan ponsel, lalu tertawa agak keras itu belagu, padahal kau tak tahu kalau ia sedang menertawakan dirinya sendiri karena baru saja mendapat berita undangan pernikahan dari seorang gadis yang rencananya akan ia minta kesediaannya untuk menjadi bagian dari hidupnya besok pagi, setelah ia berjuang keras meyakinkan orang tuanya satu tahun ini.

Kau juga menilai ia yang membuka laptop itu hanya pamer, padahal kau tak tahu ia sedang mempersiapkan presentasi yang akan berlangsung beberapa jam lagi dan itu menentukan masa depannya.

Di ruang tunggu kehidupan ini kau memang tidak banyak tahu. Sayangnya, sering kali kau tak menyadari itu, dan merasa menjadi orang yang paling tahu dan paling berhak memberi penilaian terhadap orang lain.

#catatan pengingat untuk diri sendiri

Pinang, 17 Januari 2016

Iklan

§ 5 Responses to Sketsa Ruang Tunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sketsa Ruang Tunggu at langit LANGIT.

meta

%d blogger menyukai ini: