RENTANG WAKTU

Desember 31, 2018 § 1 Komentar

Berhentilah sejenak. Mari merekam ulang kisah. Menghadapkan sepenuh hati pada wajah-wajah mereka yang pernah singgah, meramaikan perjalananmu, memberi senyum rekah dan mata sumringah.

Tinggalkan sejenak. Riuh rendah langkah kaki dan hatimu yang terus berpacu melawan waktu. Demi pencapaian yang entah.

Lupakan sejenak. Tentang hidupmu. Tentang kamu.

Duduklah sejenak. Beri ruang bercengkerama dengan dia yang kau sebut paman, bibi, kakek, nenek, orang tua, sejak lama.

Lalu perlahan mungkin kau akan menerawang ke masa saat mereka masih gagah perkasa, dan kita masih anak kecil yang ceria. Mungkin kau akan menemukan rentang waktu yang panjang. Di mana semua hanya tinggal kenangan.
.
. …semoga jarak yang terentang, membuat kita saling menghujani doa yg panjang…

Iklan

Melihat Lebih Dekat

Februari 16, 2012 § 10 Komentar

Gambar

Berhati-hatilah kepada siapa kamu membuka hati, karena hanya sedikit yang sungguh peduli, yang lainnya hanya karena ingin tahu.

Sempat pernah merasa tersanjung dengan berbagai pertanyaan sederhana tapi sangat berarti bagi kita, lalu seketika merasa sangat bodoh saat otak mulai stabil dan tersadar kalau semua hanya basa-basi dan pemenuhan keingintahuan dari penanya adalah lebih baik daripada selamanya tertipu dengan pikiran sendiri menganggap orang lain begitu peduli dengan kita tapi kenyataannya takada.

Di sanalah pentingnya sekali waktu mem-pause otak sendiri dan berjalan melewati pintu-pintu pikiran orang lain. Sehingga, diri akan mampu terus bersikap dengan selayaknya. Menempatkan segalanya pada orbit masing-masing sehingga terjaga keseimbangan semesta.

Memilah kata. Tak banyak kata. Menemukan sebatas apa ‘kepedulian’ akan ada. Bukan untuk menghakimi atau menutup diri, tapi sekadar untuk menjaga agar hati tak terberai oleh kepedulian semu yang sebenarnya hanya memenuhi hasrat ingin tahu.

Perayaan Pergantian Tahun, Gempita dan Tragedi

Januari 1, 2012 § 12 Komentar

Tiga tenggelam. Satu sudah ketemu, dua belum ditemukan.

~Pantai Pelang, 1 Januari 2012~

…………

Sejak pagi, ada yang berbeda dengan jalan raya depan rumah. Lebih ramai. Kebanyakan oleh kendaraan bermotor roda dua. Sudah menjadi tradisi, entah sejak kapan dan siapa yang memulai. Selalu saja tanggal 1 Januari banyak anak muda yang  pergi ke pantai, Pantai Prigi atau Pantai Pelang. Meskipun sering ada korban, namun sepertinya tak menyurutkan keinginan orang-orang untuk merayakan pergantian tahun dengan pergi ke pantai.

Apalah sebenarnya arti perayaan tahun baru? Apalah gunanya berhura-hura sampai mengorbankan nyawa? Apalagi bila setelahnya tak ada hal positif yang didapat.

#geleng-geleng kepala mengetahui berita di Ancol, Jakarta menghabiskan uang Rp 400 juta untuk perayaan tahun baru.

Mas Butuh Bantuan, Nih…

Maret 12, 2011 § 30 Komentar

Pagi-pagi hampir kena tipu. Hedeww.

Kembali ke berbagi cerita, nih… Jumat pagi hampir dua minggu yang lalu.

“sampaikanlah pada ibuku

aku pulang terlambat waktu

ku akan menakhlukkan malam

dengan jalan pikiranku…”

Penanda panggilan HP  bunyi. Setelah agak susah mencari-cari HP di tas ketemu juga akhirnya. Kemudian terjadilah obrolan lewat HP.

Penelepon          : “ Lg dmn?”

Aku                        : “Di minimarket.”

Penelepon          : “Ngapain?”

Aku                        : “Belanja. Emm…maaf, ini dengan siapa ya?”

Penelepon          : “Ayo siapa coba?” (dengan gayanya yang akrab)

« Read the rest of this entry »

Kekuatan Persepsi

Desember 13, 2010 § 4 Komentar

Langkah kita sepanjang hari disetir oleh persepsi kita.  Apakah itu persepsi negatif ataupun persepsi positif  tentang segala hal. Kegamangan ataupun keoptimisan menghadapi segala hal bergantung pada yang namanya persepsi.

Sesuatu yang sederhana, jika otak telah mempersepsikan menjadi sesuatu yang rumit, maka rumitlah jadinya. Sesuatu yang menyenangkan, kalau otak telah menjatuhkan vonis persepsi menjadi menyebalkan, mengancam, dan sebagainya, maka itulah kemudian yang akan dirasa oleh hati.

Seperti halnya ketika kita berpindah domisili ke tempat baru yang benar-benar asing. Sejauh mana persepsi kita tentang lingkungan akan mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan lingkungan dan akhirnya berimbas pada kenyamanan atau ketidaknyamanan.

Tidak ada salahnya ternyata, membuang persepsi negatif. (Atau memang harus ya? :-D) Karena dengan menghilangkan persepsi negatif, banyak hal menyenangkan bisa kita nikmati.

 

07:59 WIB, 11.12.10

Sketsa bintang

Rumah Petak

September 29, 2010 § 18 Komentar

Inilah yang disebut rumah oleh temanku. Sepetak kamar yang sedikit lebih besar dari kamar kosanku. Disekat menjadi dua dengan kelambu. Dihuni oleh 2 keluarga yang masing-masingnya memiliki 3 dan 4 anggota keluarga. Penuh sesaklah ruangan itu dengan segala macam barang. Baru tahulah kiranya, mengapa beberapa laki-laki dewasa sering nongkrong di depan kosanku. Karena memang ‘rumah’ mereka tak cukup lebar untuk sekadar menampung mereka bercengkrama dengan sesama anggota keluarga.
Parahnya, aku baru mengetahuinya setelah lebih dari dua tahun tinggal di sepelemparan bola dari tempat itu. Itu juga karena seseorang dari mereka sakit. (Hmm…benar2 payah ya pelajaran kepekaan sosialku).

Teh Ai’ nama orang itu. Hampir setiap hari kami bertemu, saat aku buru-buru hendak berangkat kerja. Jarang bertegur sapa, kadang hanya saling melempar senyum. Seseorang yang bantu-bantu ibu kosku menyetrika, kadang juga membersihkan rumah sekaligus membuka kantin kecil di depan kosan. Tidak ada hal yang membuatku ingat padanya sebelum kejadian waktu itu. Saat itu, sekira dua hari aku tidak berpapasan dengannya seperti pagi-pagi biasa. Itu pun tidak cukup membuatku berpikir ada apa dengannya. Sampai malam harinya ada teman kosan yang bilang, “Teh Ai’ dirawat di rumah sakit. Kena stroke. Kemarin malem dianterin bapak(bpk kos).” “Ngejenguk yuk.. Udah di rumah da sekarang,” kata seorang teman yang lain.

Pukul 20.00 WIB kami bertiga, sebagai perwakilan, keluar kosan dan berjalan menuju ke rumah Teh Ai’. Rumah yang membuat kami tercekat dan terdiam di perjalanan pulang. Sangat kontras sekali kehidupan antara dua sisi jalan di gang ini. Kami yang tanpa sadar sering membuang-buang makanan. Tidur dengan nyaman di tempat yang luas. Kami yang…

“Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Lirih kami teringat ayat itu.

Gerakan Syiah: Sejarah dan Perkembangannya

Agustus 25, 2010 § 2 Komentar

Gerakan Syiah: Sejarah dan Perkembangannya
Kamis, 09/07/2009 21:57 WIB

Selama ini, mayoritas orang selalu menganggap Syiah bagian dari Islam. Mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia sendiri menilai bahwa menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah sesuatu yang sulit dan membingungkan. Ini disebabkan beberapa hal mendasar yaitu kurangnya informasi tentang Syi’ah. Syi’ah, di kalangan mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas, tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana berkembang, tidak melihat bagaimana sejarahnya, dan tidak dapat diprediksi bagaimana di kemudian hari. Berangkat dari hal-hal tersebut, akhirnya orang Islam yang umum meyakini Syi’ah tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.

Tapi sesungguhnya ada perbedaan antara Syiah dan Islam. Bisa dikatakan, Islam dengan Syiah serupa tapi tak sama. Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.

Asal-usul Syi’ah

Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm). Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ Al-Himyari.

Abdullah bi Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamasikan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad saw seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bi Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).

Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain.

Pada periode abad pertama Hijriah, aliran Syi’ah belum menjelma menjadi aliran yang solid. Barulah pada abad kedua Hijriah, perkembangan Syiah sangat pesat bahkan mulai menjadi mainstream tersendiri. Pada waktu-waktu berikutnya, Syiah bahkan menjadi semacam keyakinan yang menjadi trend di kalangan generasi muda Islam: mengklaim menjadi tokoh pembaharu Islam, namun banyak dari pemikiran dan prinsip dasar keyakinan ini yang tidak sejalan dengan Islam itu sendiri.

Perkembangan Syiah

Bertahun-tahun lamanya gerakan Syiah hanya berputar di Iran, rumah dan kiblat utama Syiah. Namun sejak tahun 1979, persis ketika revolusi Iran meletus dan negeri ini dipimpin oleh Ayatullah Khomeini dengan cara menumbangkan rejim Syah Reza Pahlevi, Syiah merembes ke berbagai penjuru dunia. Kelompok-kelompok yang mengarah kepada gerakan Syi’ah seperti yang terjadi di Iran, marak dan muncul di mana-mana.

Perkembangan Syi’ah, yaitu gerakan yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait ini memang cukup pesat, terlebih di kalangan masyarakat yang umumnya adalah awam dalam soal keagamaan, menjadi lahan empuk bagi gerakan-gerakan aliran sempalan untuk menggaet mereka menjadi sebuah komunitas, kelompok dan jama’ahnya.

Doktrin Taqiyah

Untuk menghalangi perkembangan Syi’ah sangatlah sulit. Hal itu dikarenakan Syi’ah membuat doktrin dan ajaran yang disebut “taqiya.” Apa itu taqiyah? Taqiyah adalah konsep Syiah dimana mereka diperbolehkan memutarbalikkan fakta (berbohong) untuk menutupi kesesatannya dan mengutarakan sesuatu yang tidak diyakininya. Konsep taqiya ini diambil dari riwayat Imam Abu Ja’far Ash-Shadiq a.s., beliau berkata: “Taqiyah adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Seseorang tidak dianggap beragama bila tidak bertaqiyah.” (Al-Kaafi, jus II, h. 219).

Jadi sudah jelas bahwa Syi’ah mewajibkan konsep taqiyah kepada pengikutnya. Seorang Syi’ah wajib bertaqiyah di depan siapa saja, baik orang mukmin yang bukan alirannya maupun orang kafir atau ketika kalah beradu argumentasi, terancam keselamatannya serta di saat dalam kondisi minoritas. Dalam keadaan minoritas dan terpojok, para tokoh Syi’ah memerintahkan untuk meningkatkan taqiyah kepada pengikutnya agar menyatu dengan kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berangkat Jum’at di masjidnya dan tidak menampakkan permusuhan. Inilah kecanggihan dan kemujaraban konsep taqiyah, sehingga sangat sulit untuk melacak apalagi membendung gerakan mereka.

Padahal, arti taqiyah menurut pemahaman para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah berdasar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, taqiyah tidaklah wajib hukumnya, melainkan mubah, itupun dalam kondisi ketika menghadapi kaum musrikin demi menjaga keselamatan jiwanya dari siksaan yang akan menimpanya, atau dipaksa untuk kafir dan taqiyah ini merupakan pilihan terakhir karena tidak ada jalan lain.

Doktrin taqiyah dalam ajaran Syi’ah merupakan strategi yang sangat hebat untuk mengembangkan pahamnya, serta untuk menghadapi kalangan Ahli Sunnah, hingga sangat sukar untuk diketahui gerakan mereka dan kesesatannya.

Kesesatan-kesesatan Syiah

Di kalangan Syiah, terkenal klaim 12 Imam atau sering pula disebut “Ahlul Bait” Rasulullah Muhammad saw; penganutnya mendakwa hanya dirinya atau golongannya yang mencintai dan mengikuti Ahlul Bait. Klaim ini tentu saja ampuh dalam mengelabui kaum Ahli Sunnah, yang dalam ajaran agamanya, diperintahkan untuk mencintai dan menjungjung tinggi Ahlul Bait. Padahal para imam Ahlul Bait berlepas diri dari tuduhan dan anggapan mereka. Tokoh-tokoh Ahlul Bait (Alawiyyin) bahkan sangat gigih dalam memerangi faham Syi’ah, seperti mantan Mufti Kerajaan Johor Bahru, Sayyid Alwi bin Thahir Al-Haddad, dalam bukunya “Uqud Al-Almas.”

Adapun beberapa kesesatan Syiah yang telah nyata adalah:

1. Keyakinan bahwa Imam sesudah Rasulullah saw. Adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib r.a.
2. Keyakinan bahwa Imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).
3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.
4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib sendiri karena keyakinan tersebut.
6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
7. Keyakinan mencaci maki ara sahabat atau sebagian sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, hal.237).
8. Pada abad kedua Hijriah perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaeni dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

Saat ini figur-figur Syiah begitu terkenal dan banyak dikagumi oleh generasi muda Islam, karena pemikiran-pemikiran yang lebih banyak mengutamakan kajian logika dan filsafat. Namun, semua jamaah Sunnah wal Jamaah di seluruh dunia, sudah bersepakat adanya bahwa Syiah adalah salah satu gerakan sesat. (sa/berbagaisumber)

Rujukan:

1. Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, “Dirasat fil Ahwaa’ wal firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minha.”
2. Drs. KH. Dawam Anwar dkk. “Mengapa kita menolak Syi’ah.”
3. Abdullah bin Said Al Junaid, “Perbandingan antara Sunnah dan Syi’ah. ”
4. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi’ah.
5. Beberapa situs dan blog pribadi

catatan: masih kopas abis2an, kali ini dari http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/gerakan-syiah-sejarah-dan-perkembangannya.htm
untuk memperjelas apa yang ada di artikel ini, dapat juga membaca artikel di http://www.eramuslim.com/berita/dunia/siapa-abdullah-bin-saba.htm dan http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/syiah-dari-iran-sampai-indonesia.htm

semoga bermanfaat, maaf untuk yang tidak berkenan hanya ingin sedikit berbagi dan belajar tentang sedikit sejarah yang tak bs dilepaskan dr keberAGAMAAN .. 🙂

Where Am I?

You are currently browsing the buka mata category at langit LANGIT.