RENTANG WAKTU

Desember 31, 2018 § 3 Komentar

Berhentilah sejenak. Mari merekam ulang kisah. Menghadapkan sepenuh hati pada wajah-wajah mereka yang pernah singgah, meramaikan perjalananmu, memberi senyum rekah dan mata sumringah.

Tinggalkan sejenak. Riuh rendah langkah kaki dan hatimu yang terus berpacu melawan waktu. Demi pencapaian yang entah.

Lupakan sejenak. Tentang hidupmu. Tentang kamu.

Duduklah sejenak. Beri ruang bercengkerama dengan dia yang kau sebut paman, bibi, kakek, nenek, orang tua, sejak lama.

Lalu perlahan mungkin kau akan menerawang ke masa saat mereka masih gagah perkasa, dan kita masih anak kecil yang ceria. Mungkin kau akan menemukan rentang waktu yang panjang. Di mana semua hanya tinggal kenangan.
.
. …semoga jarak yang terentang, membuat kita saling menghujani doa yg panjang…

Melihat Lebih Dekat

Februari 16, 2012 § 10 Komentar

Gambar

Berhati-hatilah kepada siapa kamu membuka hati, karena hanya sedikit yang sungguh peduli, yang lainnya hanya karena ingin tahu.

Sempat pernah merasa tersanjung dengan berbagai pertanyaan sederhana tapi sangat berarti bagi kita, lalu seketika merasa sangat bodoh saat otak mulai stabil dan tersadar kalau semua hanya basa-basi dan pemenuhan keingintahuan dari penanya adalah lebih baik daripada selamanya tertipu dengan pikiran sendiri menganggap orang lain begitu peduli dengan kita tapi kenyataannya takada.

Di sanalah pentingnya sekali waktu mem-pause otak sendiri dan berjalan melewati pintu-pintu pikiran orang lain. Sehingga, diri akan mampu terus bersikap dengan selayaknya. Menempatkan segalanya pada orbit masing-masing sehingga terjaga keseimbangan semesta.

Memilah kata. Tak banyak kata. Menemukan sebatas apa ‘kepedulian’ akan ada. Bukan untuk menghakimi atau menutup diri, tapi sekadar untuk menjaga agar hati tak terberai oleh kepedulian semu yang sebenarnya hanya memenuhi hasrat ingin tahu.

Perayaan Pergantian Tahun, Gempita dan Tragedi

Januari 1, 2012 § 12 Komentar

Tiga tenggelam. Satu sudah ketemu, dua belum ditemukan.

~Pantai Pelang, 1 Januari 2012~

…………

Sejak pagi, ada yang berbeda dengan jalan raya depan rumah. Lebih ramai. Kebanyakan oleh kendaraan bermotor roda dua. Sudah menjadi tradisi, entah sejak kapan dan siapa yang memulai. Selalu saja tanggal 1 Januari banyak anak muda yang  pergi ke pantai, Pantai Prigi atau Pantai Pelang. Meskipun sering ada korban, namun sepertinya tak menyurutkan keinginan orang-orang untuk merayakan pergantian tahun dengan pergi ke pantai.

Apalah sebenarnya arti perayaan tahun baru? Apalah gunanya berhura-hura sampai mengorbankan nyawa? Apalagi bila setelahnya tak ada hal positif yang didapat.

#geleng-geleng kepala mengetahui berita di Ancol, Jakarta menghabiskan uang Rp 400 juta untuk perayaan tahun baru.

Mas Butuh Bantuan, Nih…

Maret 12, 2011 § 30 Komentar

Pagi-pagi hampir kena tipu. Hedeww.

Kembali ke berbagi cerita, nih… Jumat pagi hampir dua minggu yang lalu.

“sampaikanlah pada ibuku

aku pulang terlambat waktu

ku akan menakhlukkan malam

dengan jalan pikiranku…”

Penanda panggilan HP  bunyi. Setelah agak susah mencari-cari HP di tas ketemu juga akhirnya. Kemudian terjadilah obrolan lewat HP.

Penelepon          : “ Lg dmn?”

Aku                        : “Di minimarket.”

Penelepon          : “Ngapain?”

Aku                        : “Belanja. Emm…maaf, ini dengan siapa ya?”

Penelepon          : “Ayo siapa coba?” (dengan gayanya yang akrab)

« Read the rest of this entry »

Kekuatan Persepsi

Desember 13, 2010 § 4 Komentar

Langkah kita sepanjang hari disetir oleh persepsi kita.  Apakah itu persepsi negatif ataupun persepsi positif  tentang segala hal. Kegamangan ataupun keoptimisan menghadapi segala hal bergantung pada yang namanya persepsi.

Sesuatu yang sederhana, jika otak telah mempersepsikan menjadi sesuatu yang rumit, maka rumitlah jadinya. Sesuatu yang menyenangkan, kalau otak telah menjatuhkan vonis persepsi menjadi menyebalkan, mengancam, dan sebagainya, maka itulah kemudian yang akan dirasa oleh hati.

Seperti halnya ketika kita berpindah domisili ke tempat baru yang benar-benar asing. Sejauh mana persepsi kita tentang lingkungan akan mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan lingkungan dan akhirnya berimbas pada kenyamanan atau ketidaknyamanan.

Tidak ada salahnya ternyata, membuang persepsi negatif. (Atau memang harus ya? :-D) Karena dengan menghilangkan persepsi negatif, banyak hal menyenangkan bisa kita nikmati.

 

07:59 WIB, 11.12.10

Sketsa bintang

Rumah Petak

September 29, 2010 § 18 Komentar

Inilah yang disebut rumah oleh temanku. Sepetak kamar yang sedikit lebih besar dari kamar kosanku. Disekat menjadi dua dengan kelambu. Dihuni oleh 2 keluarga yang masing-masingnya memiliki 3 dan 4 anggota keluarga. Penuh sesaklah ruangan itu dengan segala macam barang. Baru tahulah kiranya, mengapa beberapa laki-laki dewasa sering nongkrong di depan kosanku. Karena memang ‘rumah’ mereka tak cukup lebar untuk sekadar menampung mereka bercengkrama dengan sesama anggota keluarga.
Parahnya, aku baru mengetahuinya setelah lebih dari dua tahun tinggal di sepelemparan bola dari tempat itu. Itu juga karena seseorang dari mereka sakit. (Hmm…benar2 payah ya pelajaran kepekaan sosialku).

Teh Ai’ nama orang itu. Hampir setiap hari kami bertemu, saat aku buru-buru hendak berangkat kerja. Jarang bertegur sapa, kadang hanya saling melempar senyum. Seseorang yang bantu-bantu ibu kosku menyetrika, kadang juga membersihkan rumah sekaligus membuka kantin kecil di depan kosan. Tidak ada hal yang membuatku ingat padanya sebelum kejadian waktu itu. Saat itu, sekira dua hari aku tidak berpapasan dengannya seperti pagi-pagi biasa. Itu pun tidak cukup membuatku berpikir ada apa dengannya. Sampai malam harinya ada teman kosan yang bilang, “Teh Ai’ dirawat di rumah sakit. Kena stroke. Kemarin malem dianterin bapak(bpk kos).” “Ngejenguk yuk.. Udah di rumah da sekarang,” kata seorang teman yang lain.

Pukul 20.00 WIB kami bertiga, sebagai perwakilan, keluar kosan dan berjalan menuju ke rumah Teh Ai’. Rumah yang membuat kami tercekat dan terdiam di perjalanan pulang. Sangat kontras sekali kehidupan antara dua sisi jalan di gang ini. Kami yang tanpa sadar sering membuang-buang makanan. Tidur dengan nyaman di tempat yang luas. Kami yang…

“Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Lirih kami teringat ayat itu.

Gerakan Syiah: Sejarah dan Perkembangannya

Agustus 25, 2010 § 2 Komentar

Gerakan Syiah: Sejarah dan Perkembangannya
Kamis, 09/07/2009 21:57 WIB

Selama ini, mayoritas orang selalu menganggap Syiah bagian dari Islam. Mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia sendiri menilai bahwa menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah sesuatu yang sulit dan membingungkan. Ini disebabkan beberapa hal mendasar yaitu kurangnya informasi tentang Syi’ah. Syi’ah, di kalangan mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas, tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana berkembang, tidak melihat bagaimana sejarahnya, dan tidak dapat diprediksi bagaimana di kemudian hari. Berangkat dari hal-hal tersebut, akhirnya orang Islam yang umum meyakini Syi’ah tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.

Tapi sesungguhnya ada perbedaan antara Syiah dan Islam. Bisa dikatakan, Islam dengan Syiah serupa tapi tak sama. Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.

Asal-usul Syi’ah

Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm). Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ Al-Himyari.

Abdullah bi Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamasikan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad saw seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bi Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).

Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain.

Pada periode abad pertama Hijriah, aliran Syi’ah belum menjelma menjadi aliran yang solid. Barulah pada abad kedua Hijriah, perkembangan Syiah sangat pesat bahkan mulai menjadi mainstream tersendiri. Pada waktu-waktu berikutnya, Syiah bahkan menjadi semacam keyakinan yang menjadi trend di kalangan generasi muda Islam: mengklaim menjadi tokoh pembaharu Islam, namun banyak dari pemikiran dan prinsip dasar keyakinan ini yang tidak sejalan dengan Islam itu sendiri.

Perkembangan Syiah

Bertahun-tahun lamanya gerakan Syiah hanya berputar di Iran, rumah dan kiblat utama Syiah. Namun sejak tahun 1979, persis ketika revolusi Iran meletus dan negeri ini dipimpin oleh Ayatullah Khomeini dengan cara menumbangkan rejim Syah Reza Pahlevi, Syiah merembes ke berbagai penjuru dunia. Kelompok-kelompok yang mengarah kepada gerakan Syi’ah seperti yang terjadi di Iran, marak dan muncul di mana-mana.

Perkembangan Syi’ah, yaitu gerakan yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait ini memang cukup pesat, terlebih di kalangan masyarakat yang umumnya adalah awam dalam soal keagamaan, menjadi lahan empuk bagi gerakan-gerakan aliran sempalan untuk menggaet mereka menjadi sebuah komunitas, kelompok dan jama’ahnya.

Doktrin Taqiyah

Untuk menghalangi perkembangan Syi’ah sangatlah sulit. Hal itu dikarenakan Syi’ah membuat doktrin dan ajaran yang disebut “taqiya.” Apa itu taqiyah? Taqiyah adalah konsep Syiah dimana mereka diperbolehkan memutarbalikkan fakta (berbohong) untuk menutupi kesesatannya dan mengutarakan sesuatu yang tidak diyakininya. Konsep taqiya ini diambil dari riwayat Imam Abu Ja’far Ash-Shadiq a.s., beliau berkata: “Taqiyah adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Seseorang tidak dianggap beragama bila tidak bertaqiyah.” (Al-Kaafi, jus II, h. 219).

Jadi sudah jelas bahwa Syi’ah mewajibkan konsep taqiyah kepada pengikutnya. Seorang Syi’ah wajib bertaqiyah di depan siapa saja, baik orang mukmin yang bukan alirannya maupun orang kafir atau ketika kalah beradu argumentasi, terancam keselamatannya serta di saat dalam kondisi minoritas. Dalam keadaan minoritas dan terpojok, para tokoh Syi’ah memerintahkan untuk meningkatkan taqiyah kepada pengikutnya agar menyatu dengan kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berangkat Jum’at di masjidnya dan tidak menampakkan permusuhan. Inilah kecanggihan dan kemujaraban konsep taqiyah, sehingga sangat sulit untuk melacak apalagi membendung gerakan mereka.

Padahal, arti taqiyah menurut pemahaman para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah berdasar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, taqiyah tidaklah wajib hukumnya, melainkan mubah, itupun dalam kondisi ketika menghadapi kaum musrikin demi menjaga keselamatan jiwanya dari siksaan yang akan menimpanya, atau dipaksa untuk kafir dan taqiyah ini merupakan pilihan terakhir karena tidak ada jalan lain.

Doktrin taqiyah dalam ajaran Syi’ah merupakan strategi yang sangat hebat untuk mengembangkan pahamnya, serta untuk menghadapi kalangan Ahli Sunnah, hingga sangat sukar untuk diketahui gerakan mereka dan kesesatannya.

Kesesatan-kesesatan Syiah

Di kalangan Syiah, terkenal klaim 12 Imam atau sering pula disebut “Ahlul Bait” Rasulullah Muhammad saw; penganutnya mendakwa hanya dirinya atau golongannya yang mencintai dan mengikuti Ahlul Bait. Klaim ini tentu saja ampuh dalam mengelabui kaum Ahli Sunnah, yang dalam ajaran agamanya, diperintahkan untuk mencintai dan menjungjung tinggi Ahlul Bait. Padahal para imam Ahlul Bait berlepas diri dari tuduhan dan anggapan mereka. Tokoh-tokoh Ahlul Bait (Alawiyyin) bahkan sangat gigih dalam memerangi faham Syi’ah, seperti mantan Mufti Kerajaan Johor Bahru, Sayyid Alwi bin Thahir Al-Haddad, dalam bukunya “Uqud Al-Almas.”

Adapun beberapa kesesatan Syiah yang telah nyata adalah:

1. Keyakinan bahwa Imam sesudah Rasulullah saw. Adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib r.a.
2. Keyakinan bahwa Imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).
3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.
4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib sendiri karena keyakinan tersebut.
6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
7. Keyakinan mencaci maki ara sahabat atau sebagian sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, hal.237).
8. Pada abad kedua Hijriah perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaeni dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

Saat ini figur-figur Syiah begitu terkenal dan banyak dikagumi oleh generasi muda Islam, karena pemikiran-pemikiran yang lebih banyak mengutamakan kajian logika dan filsafat. Namun, semua jamaah Sunnah wal Jamaah di seluruh dunia, sudah bersepakat adanya bahwa Syiah adalah salah satu gerakan sesat. (sa/berbagaisumber)

Rujukan:

1. Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, “Dirasat fil Ahwaa’ wal firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minha.”
2. Drs. KH. Dawam Anwar dkk. “Mengapa kita menolak Syi’ah.”
3. Abdullah bin Said Al Junaid, “Perbandingan antara Sunnah dan Syi’ah. ”
4. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi’ah.
5. Beberapa situs dan blog pribadi

catatan: masih kopas abis2an, kali ini dari http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/gerakan-syiah-sejarah-dan-perkembangannya.htm
untuk memperjelas apa yang ada di artikel ini, dapat juga membaca artikel di http://www.eramuslim.com/berita/dunia/siapa-abdullah-bin-saba.htm dan http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/syiah-dari-iran-sampai-indonesia.htm

semoga bermanfaat, maaf untuk yang tidak berkenan hanya ingin sedikit berbagi dan belajar tentang sedikit sejarah yang tak bs dilepaskan dr keberAGAMAAN .. 🙂

Dari Iran, Membawa Syi’ah untuk Indonesia

Juni 5, 2010 § 18 Komentar

Situasi kota TeheranFOTO: SWABERITA

Para pemuda disekolahkan, para ahli diundang datang, buku-buku disebar luaskan, semua oleh Iran.

Tidak sulit menemukan informasi kegiatan Syi’ah terdekat di sekitar Anda. Cukup hubungi 021-7996767, maka seorang operator ramah akan memberitahu Anda nama yayasan Syi’ah terdekat beserta alamatnya. Atau, setidaknya nomor telepon yayasan tersebut.

Beginilahlah contoh salah satu jawaban sang opertor ketika kita tanya informasi tentang tempat-tempat kajian Syi’ah di Makassar. “Untuk kajian Syi’ah di Makassar, di Yayasan Lentera, nomor teleponnya 0411-495***. Atau Yayasan Rausyan Fikr, 0411-446***.”

Nomor telepon itu sesungguhnya milik Islamic Cultural Center (ICC), sebuah lembaga pusat kebudayaan Republik Iran yang berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan.

Ahamad, sang operator telepon tersebut, menjelaskan kepada Suara Hidyatullah bahwa yayasan Syi’ah (sering disebut ahlul bait) serupa tersebar di seluruh Nusantara dengan ICC sebagai pusat informasi dan kebudayaannya. Selain itu, kata karyawan yang telah bekerja di ICC sejak awal berdirinya ini, lembaga tempat ia bekerja juga menjadi pusat kajian Syi’ah untuk kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Sejumlah ahli juga mengajar di pusat informasi kebudayaan Iran ini. Sebut saja, misalnya, Dr Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, kakak beradik Umar Shihab dan Prof Quraish Shihab, serta O. Hashem, penulis produktif yang meninggal dunia akhir Januari 2009 lalu.

Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau habaib, seperti Agus Abubakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.

Direktur ICC, Mohsen Hakimollahi mengatakan, salah satu tujuan didirikannya ICC adalah untuk memperbaiki citra negatif tentang Republik Iran di Indonesia. “Selama ini ada anggapan al-Qur`an di Iran berbeda dengan yang ada di Indonesia . Atau anggapan nabinya orang Iran bukan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), tapi Sayyidina Ali. Padahal berita itu bohong,” kata Mohsen kepada Suara Hidayatullah saat diwawancarai di kantornya tengah bulan lalu.

Mohsen, lulusan salah satu hauzah ‘ilmiyyah (sejenis pesantren) di Qom , Iran , ini menyadari bahwa Islam yang dianut oleh masyarakat Indonesia berbeda dengan masyarakat Iran. Umat Islam Indonesia menganut paham ahlus sunnah yang mayoritas bermadzhab Syafi’i, sedang di Iran menganut Syi’ah Imamiyah (12 imam) yang bermadzhab Ja’fari.

“Tapi, kalau dilihat usulnya sama. Kiblatnya sama. Nabinya sama, yakni Muhammad SAW,” ujar pria asli Iran yang cukup fasih berbahasa Indonesia ini.

Selain menjadi “gerbang” bagi para pelajar yang akan menimba ilmu ke Iran, ICC juga kerap mengundang ulama-ulama Syi’ah dari Iran untuk berdakwah di Indonesia . Bila musim penerimaan mahasiswa baru di Iran tiba, para mullah tersebut kadang juga menggelar ujian seleksi bagi calon mahasiswa yang berminat belajar ke sejumlah hauzah ‘ilmiyyah ataupun universitas di Iran .

Tokoh-tokoh asal Iran yang dibopong ICC ke Jakarta pun bukan orang sembarangan. Selain ulama-ulama Syi’ah, ICC juga menghadirkan pejabat negara Iran. Pada perayaan revolusi Iran , 5 Februari lalu, ICC bahkan menghadirkan Prof Yasser Khomeini. Yasser adalah cucu Imam Khomeini, pemimpin revolusi Iran, yang juga menulis kitab al-Hukumat al-Islamiyyah. Ia juga pernah mengatakan bahwa para imam Syi’ah mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dan tidak mungkin dicapai oleh para malaikat dan para Nabi utusan Allah Subhanahu wata’ala (SAW).

Pembelaan sang cucu

Suara Hidayatullah menyengaja hadir pada acara yang diberi kata sambutan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Behrooz Kamalvandi, dan anggota DPR RI Komisi I, Abdillah Toha tersebut. Acara yang berlangsung selepas ‘Isya ini berisi gembar-gembor kehebatan revolusi Iran, Khomeini, dan keberhasilan Iran meluncurkan satelit Omid pada awal Februari lalu.

Begitu semangatnya memberi pengantar, Abdillah Toha sampai mengatakan, “Dengan melihat cucu Imam Khomeini kita akan mendapat berkah Imam Khomeini!”

Selama sekitar setengah jam Yasser Khomeini mengklarifikasi tuduhan musuh-musuh Syi’ah yang selalu berusaha mengingkari revolusi gagasan kakeknya itu. Kata Yasser, pengingkaran Bani Umayyah terhadap keutamaan Ali bin Abi Thalib dahulu kembali dilakukan oleh musuh-musuh ahlul bait untuk mengingkari revolusi yang disebutnya revolusi Islam Iran ini.

“Mereka menganggapnya revolusi Syi’ah, dan mengajak kaum Muslimin untuk membendung pandangan-pandangan tentang revolusi di Iran,” kata Yasser dalam bahasa Persia yang sampaikan lewat penerjemahnya. Tak mau ketinggalan, sang pemandu acara, Hasan Daliel al-Idrus menyebut musuh-musuh Syi’ah tersebut dengan sebutan “Neo Bani Umayyah”.

Mendompleng Revolusi

Revolusi pimpinan Khomeini yang menggulingkan rezim Syah Reza Pahlevi di Iran pada 1979 berperan besar pada perkembangan Syi’ah di dunia, termasuk di Indonesia . Mohsen Hakimollahi juga mengakui hal itu.
Pasca tumbangnya Syah, kata Mohsen, jumlah pelajar asing, termasuk dari Indonesia , yang datang ke hauzah-hauzah ‘ilmiyyah di Iran meningkat pesat. Kata Mohsen, memang ada beberapa pelajar asal Indonesia yang belajar di Iran pada masa pra revolusi, tapi sedikit sekali jumlahnya. “Pada masa Syah jumlah hauzah juga masih sedikit,” jelas Mohsen.

Menurut Mohsen, jumlah mahasiwa asal Indonesia yang tengah belajar di Iran saat ini sekitar 300 orang. Semuanya mendapat beasiswa penuh. Namun, tidak semua mahasiswa tersebut belajar syari’ah di hauzah, sebagiannya juga ada yang mengambil jurusan teknik di universitas di Teheran. Sedang untuk jumlah alumninya sekarang sudah mencapai sekitar 200 orang.

Sekembalinya ke tanah air, para lulusan Iran ini aktif menyebarkan paham Syi’ah dengan membuka majelis taklim, yayasan, sekolah, hingga pesantren. Di antaranya ada Ahmad Baraqbah yang mendirikan Pesantren al-Hadi di Pekalongan (sudah hangus dibakar massa ), ada juga Husein al-Kaff yang mendirikan Yayasan al-Jawwad di Bandung , dan masih puluhan yayasan Syi’ah lainnya yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi .

Menurut pusat data lembaga penelitian Syi’ah di Yogyakarta, Rausyan Fikr, seperti disampaikan dalam makalah yang ditulis oleh Pengurus Wilayah Ikatan Jamaah AhlulBait Indonesia (IJABI) Yogyakarta, AM Safwan, pada tahun 2001, terdapat 36 yayasan Syi’ah di Indonesia dengan 43 kelompok pengajian. Sebanyak 21 yayasan/kelompok pengajian di tingkat propinsi, dan 33 yayasan/kelompok pengajian di tingkat kabupaten/kota.

Tidak hanya melalui pengajian, upaya penyebaran paham Syi’ah juga gencar dilakukan melalui penerbitan buku. Menurut hasil hitungan Rausyan Fikr, hingga Februari 2001 saja, tidak kurang 373 judul buku mengenai Syi’ah telah diterbitkan oleh 59 penerbit yang ada di Indonesia. Jumlah ini tentunya terus bertambah.

ICC juga intens memberangkatkan tokoh-tokoh ormas Islam Indonesia berkunjung ke Iran, seperti Amin Rais dan Din Syamsuddin dari Muhammdiyah, serta Hasyim Muzadi dan Said Aqil Siradj dari Nahdhatul Ulama. Sejumlah rektor dari perguruan tinggi Islam juga sering diundang ke Iran .

Untuk lebih dekat dengan dunia kampus, ICC juga membuka Iranian Corner di 12 universitas di Indonesia . Di antaranya UIN Syarif Hidayatullah, Univeritas Muhammadiyah Jakarta, Univ. Muhammadiyah Malang, Univ. Muhammadiyah Yogyakarta, Univ. Ahmad Dahlan Yogyakarta, dn UIN Sunan Kalijaga.

Iranian Corner berfungsi sebagai pusat referensi mengenai Iran dan kebudayaannya melalui buku-buku, saluran televisi Iran , dan jurnal ilmiah. Di beberapa tempat, Iranian Corner juga membuka kursus gratis bahasa Arab dan Persia . *Masykur, Ibnu Syafa’at, Surya Fachrizal/Suara Hidayatullah, APRIL2009

copas abis dari Dari Iran, Membawa Syiah untuk Indonesia di Majalah Hidayatullah online.

Where Am I?

You are currently browsing the buka mata category at langit LANGIT.