RENTANG WAKTU

Desember 31, 2018 § 2 Komentar

Berhentilah sejenak. Mari merekam ulang kisah. Menghadapkan sepenuh hati pada wajah-wajah mereka yang pernah singgah, meramaikan perjalananmu, memberi senyum rekah dan mata sumringah.

Tinggalkan sejenak. Riuh rendah langkah kaki dan hatimu yang terus berpacu melawan waktu. Demi pencapaian yang entah.

Lupakan sejenak. Tentang hidupmu. Tentang kamu.

Duduklah sejenak. Beri ruang bercengkerama dengan dia yang kau sebut paman, bibi, kakek, nenek, orang tua, sejak lama.

Lalu perlahan mungkin kau akan menerawang ke masa saat mereka masih gagah perkasa, dan kita masih anak kecil yang ceria. Mungkin kau akan menemukan rentang waktu yang panjang. Di mana semua hanya tinggal kenangan.
.
. …semoga jarak yang terentang, membuat kita saling menghujani doa yg panjang…

Sketsa Ruang Tunggu

Januari 17, 2016 § 5 Komentar

“Bila kau tak benar-benar tahu kehidupan seseorang, tahanlah diri untuk melontarkan tanya yang bisajadi menyakitkan; apalagi hanya dengan alasan, menurutmu caranya menjalani hidup tak sesempurna caramu.”

Stasiun Jatinegara selepas tengah malam. Kereta-kereta malam antarprovinsi mulai berdatangan. Satu per satu penumpang turun.  Ada yang langsung melanjutkan perjalanan, ada yang bertahan di ruang tunggu—entah menunggu jemputan, atau sekadar menunggu pagi.

« Read the rest of this entry »

Aku [mencintai] Januari

Januari 3, 2016 § 2 Komentar

Abstrak. Absurd. Gamang. Tak tahu arah.
Caranya menghabiskan hitungan jam dalam sekali bumi berotasi pada porosnya—menurutnya (yang suka mendramatisasi sesuatu)—tak lebih hanya sekadar gerak mekanik yang mendekati refleks. Baginya—serasa—tak ada yang istimewa dari berlarinya waktu. Pagi dan senjanya berulang begitu saja. Hingga Januari pun kembali menyapanya.

Meski tak pernah mampu, ia pernah ingin sesekali membenci Januari sembari berharap, sesaat waktu akan berhenti hanya sampai Desember.

« Read the rest of this entry »

2985 MDPL; Perjalanan Hati

September 21, 2014 § 17 Komentar

Gunung Gede, 13-14 September 2014

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mendaki gunung bukan hanya tentang menjawab tantangan, hobi, merehatkan diri dari hiruk-piruk hidup, atau sekadar menunjukkan kehebatan, apalagi pelarian.

Ia adalah perjalanan hati. Saat lelah telah menjadikan tubuh melemah, akankah hati tetap mampu memenangkan keyakinannya, keberaniannya, kasih sayangnya, kesabarannya, kesantunannya, kekuatan tekadnya, dan kebaikan-kebaikannya yang lain. « Read the rest of this entry »

Ini Soal Cara #kepadaSeptember 4

September 4, 2014 § 2 Komentar

Burung-Gagak-dan-Sebuah-Kendi-426x288

Dear kamu,

Sudah pernahkah aku bercerita tentang ini padamu?

« Read the rest of this entry »

Lelaki di Penyeberangan #kepadaSeptember 3

September 3, 2014 § 5 Komentar

tumblr_n5r8aqs2Zt1tzjvgso1_500

September,

Malam ini aku ingin bercerita padamu tentang lelaki di penyeberangan itu. Mau tak mau aku harus bertemu dengannya setiap hari saat langit mulai merona kemerahan dan manusia-manusia gegas menuju pulang.

« Read the rest of this entry »

Januari #kepadaSeptember 2

September 2, 2014 § 2 Komentar

dandelion_fluff_2_by_noctilucentme-d4ahvfb

Dear Januari;

Masihkah kamu lipat senja dan pagimu? Akankah kamu menyambutku di pintu tempat kita selalu bertemu. Lalu, kamu bisikkan segenggam kisah tentang purnama beraroma mawar? Ataukah, kamu masih akan bertutur tentang perihmu tertusuk hari?

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Catatan Perjalanan category at langit LANGIT.