RENTANG WAKTU

Desember 31, 2018 § 1 Komentar

Berhentilah sejenak. Mari merekam ulang kisah. Menghadapkan sepenuh hati pada wajah-wajah mereka yang pernah singgah, meramaikan perjalananmu, memberi senyum rekah dan mata sumringah.

Tinggalkan sejenak. Riuh rendah langkah kaki dan hatimu yang terus berpacu melawan waktu. Demi pencapaian yang entah.

Lupakan sejenak. Tentang hidupmu. Tentang kamu.

Duduklah sejenak. Beri ruang bercengkerama dengan dia yang kau sebut paman, bibi, kakek, nenek, orang tua, sejak lama.

Lalu perlahan mungkin kau akan menerawang ke masa saat mereka masih gagah perkasa, dan kita masih anak kecil yang ceria. Mungkin kau akan menemukan rentang waktu yang panjang. Di mana semua hanya tinggal kenangan.
.
. …semoga jarak yang terentang, membuat kita saling menghujani doa yg panjang…

Iklan

Inilah yang namanya Perjuangan

Desember 4, 2012 § 17 Komentar

cuqui,poor,bird,in,rain-0c0cf1935f1b02b95bf778f65c84ae44_h

Dia lelaki yang masih sangat muda. ‘Merelakan’ dirinya bekerja menjadi staff di sebuah kantor –sementara dulu seumuran dia aku hanya tahu menunggu kiriman uang dari orangtua-. Mengawali hari setiap pukul 8.00 WIB. Tampak tak ada yang berbeda…. tetapi ketika berbicang dengannya sebentar saja tahulah aku ada yang tak biasa dengannya. Pulang kerja baginya bukan berarti saat untuk menghilangkan penat. Dia harus segera beranjak dan menyiapkan tenaga untuk kegiatan selanjutnya sampai nanti pukul 22.00 WIB. Yup, dia kuliah malam hingga pukul 22.00. Setiap hari.

Dia perempuan tangguh. Hampir seperti tulang punggung keluarganya. Melihatnya sekilas tak akan pernah terduga. Bahkan, mungkin akan sedikit sebal ketika kita tahu dia jarang kumpul-kumpul bersama di kosan. Pukul 20.00 WIB sudah tidur. Tetapi lihatlah, ketika waktu menunjukkan pukul 24.00/01.00 WIB, saat aku sudah tertidur setelah bosan bercanda, dia bangun lalu melanjutkan pekerjaannya. Yup, dia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk pekerjaannya. Demi memenuhi target sehingga tak dipotong gajinya dan sedikit mendapat bonus. Dia memang mendapat gaji sedikit lebih tinggi dariku waktu itu, tetapi dia hanya mengambil beberapa ratus ribu sekadar cukup untuknya bertahan hidup, bahkan sering kali dipaksakan untuk cukup. Lalu, ke manakah sebagian besar gajinya? Untuk membiayai adik-adiknya kuliah.

Dia perempuan tegar. Hampir setahun bersamanya hampir tak pernah aku mendengarnya mengeluh. Siangnya dia bekerja. Malam takselalu berarti istirahat sepenuhnya. Laptop dan segudang ide menemaninya melewati waktu. Menghasilkan karya-karya.

Yang namanya perjuangan memang tak akan pernah mudah. Ada kesenangan diri yang dikorbankan. Ada keinginan yang dilepaskan. Tetapi, ujungnya pasti indah. Hasilnya lebih memuaskan. Keberhasilan takakan mendatangi mereka yang takmau berlelah-lelah; mereka yang takmau melakukan sesuatu yang takbiasa. *Ntms

Akan Seperti Apakah Wajah Ramadhan Kita Tahun Ini?

Juli 10, 2012 § 6 Komentar

Dalam hitungan hari, Ramadhan akan datang. Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menyambut bulan istimewa ini? Atau, kita hanya akan melaluinya seperti bulan-bulan lain tanpa ada perasaan istimewa dan mengistimewakannya. Kemudian,  Ramadhan akan berlalu seperti entah berapa puluh Ramadhan yang telah kita lewati yang berlalu begitu saja tanpa memberikan bekas yang berarti pada diri.

« Read the rest of this entry »

Aku Mencintaimu Tanpa Batas

Maret 19, 2010 § 18 Komentar

“Aku mencintaimu tanpa batas.”
Begitu salah satu baris puisi yang dipersembahkan oleh Pepeng untuk istri tercintanya, Ibu Tami, dan dibacakan oleh Ibu Tami sambil menahan tangis haru di satu jam lebih dekat, salah satu acara di stasiun tv swasta semalam.

Kereeen. Untuk perjuangan hidupnya dan penerimaannya terhadap penyakit Multiple Sklerosis, jenis penyakit langka yang diderita oleh satu orang dari 2 juta orang di dunia, yang telah dideritanya selama empat tahun terakhir ini. Untuk semangatnya. Senyumnya yang tak pernah lepas. Untuk Ibu Tami.

Benar-benar orang pilihan. Keluarga pilihan. ‘Dipilih’ dari 2 juta manusia lain untuk merasakan penyakit itu. Dan pilihaannya untuk menerima takdir dengan ikhlas membuatnya benar-benar menjadi manusia pilihan yang istimewa.
“Bagaimana proses Bang Pepeng berdamai dengan penyakit ini?” salah satu pertanyaan Indi Rahmawati.
“ Waah….peperangannya dahsyat. Ada perdamaian, pasti setelah terjadi peperangan, bukan?”
*****
Sungguh. hebat.
Untuk keikhlasannya. Untuk semangat hidupnya. Dengan kondisi badan yang mengharuskan berbaring di tempat tidur selama 24 jam, beliau berhasil menyelesaikan kuliah S2nya. Tak hanya itu, tapi banyak hal lain yang dilakukan, termasuk menjadi dosen tamu di salah stu perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Malu.
Malu sebagai seseorang yang sehat wal afiat. Bisa pergi ke mana pun yang aku mau dan melakukan apa pun ternyata tidak membuat diri memiliki kreativitas dan semangat sebesar beliau. Tidak berjiwa besar seperti beliau. Banyak mengeluh dan bertanya pada Tuhan tentang sesuatu yang tidak dimiliki, padahal yang dimiliki lebih banyak.

office
nice jumat

Menikmati Proses

Februari 15, 2010 § 16 Komentar

Seringkali rasa useless datang saat kita melihat orang lain lebih hebat dari kita dan telah meraih kesuksesan. Takjub. Di bidang apa pun itu. Itu sih yang kadang (atau sering ya?) saya rasakan. Membaca buku (jadi ngerucut ke buku nih..:-) ) yang dulu ‘hanya’ membuat saya berpikir tentang isinya yang bagus, sekarang bertambah satu lagi pikiran, hebat penulisnya bisa menggerakkan orang lain melalui tulisannya. “Bisa nggak ya aku seperti mereka?” Itu pertanyaan selanjutnya yang muncul.

“Jangan hanya melihat kesuksesannya sekarang aja, Ka.” Kata Bunda Nanit suatu ketika, saat berbagi perjalanannya di dunia tulis-menulis. “Coba kamu korek kisah perjuangannya menuju ke sana. Kegigihannya, dan apa usaha yang telah dilakukan, kemudian tirulah.”

Apa pun dalam hidup ini pasti membutuhkan proses. Dan, hanya mereka yang berhasil menikmati proseslah yang akan keluar menjadi pemenang. Mereka yang tidak bisa menikmati proses, merekalah pecundang yang hanya berpikir mendapatkan segala sesuatu dengan instan.

Nah, bagaimana menikmati proses inilah yang menarik. Menikmati proses ala orang hebat tentu bukan hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Menikmati proses bukan hanya menunggu momentum, tapi menciptakan. Lalu, bagaimana cara orang hebat menikmati proses?

Share pendapat aja ya..berdasarkan hasil amat-mengamati kecil-kecilan, saya mendapatkan beberapa poin untuk menasihati diri sendiri. Cek..cek..cekidot… 

a. Menjadi musuh utama malas
Hal yang belum bisa saya lakukan. Saya tidak suka konflik jadi daripada memusuhi mendingan saya berdamai. Hehehe. Meskipun tahu kalau berdamai dengan malas seperti bunuh diri secara perlahan-lahan.
b. Miliki target
Hasil ngobrol-ngobrol dengan Mbak Ryu (sebenarnya sudah sering disampaikan oleh penulis-penulis senior juga, hanya ini lebih terasa karena disampaikannya baru dan bertatap muka lagi.
“Memang harus punya target Ka,” katanya. “Aku punya target sehari aku harus punya satu tulisan, apa pun itu. Kalaupun tidak sempat menjadi sebuah tulisan yang utuh, minimal ide besarnya sudah ada.”
c. Disiplin
“Aku selalu maksain pulang kerja harus nulis meskipun baru lembur atau kerjaan di kantor lagi padet.” Masih kata mbak Ryu. Hee…aku mah, kebanyakan ngasih permisif ke diri sendiri, Mbak. Capai sedikit aja udah pengen memanjakan diri,” kata saya.
Disiplin…disiplin…disiplin… disiplin dengan target. Dengan usaha untuk mencapai target.
d. Berani mencoba
Ini sih mutlak harus. Mulai dari berani mencoba untuk menulis. mencoba untuk mempublish tulisan sampai mencoba mengirimkan ke penerbit.
e. Pantang menyerah
Tulisan ditolak sekali..dua..tiga…sepuluh…tidak boleh membuat kita menyerah. Karena cerita orang-orang sukses tidak pernah mengenal kata menyerah. Menerima banyak kritikan, bukan membuat mundur, tapi justru harus terus maju karena pada hakikatnya kritikan tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas tulisan kita.
f. Mengambil peluang melalui perlombaan.

Untuk weekend seru bareng Mbak Ryu 
sumber foto: http://i479.photobucket.com/albums/rr154/numallie/Graphics/write.jpg

Kasihanilah Para Pecinta

November 23, 2009 § 2 Komentar

Sepasang aktivis itu datang menemui saya dengan mata berbinar. Binar cinta yang bersemi di mushalla kampus dan di bangku kuliah dan di arak-arakan jalanan demonstrasi untuk reformasi. Di tengah badai politik itu cinta mereka bersemi. Tapi cinta gadis keturunan Arab dengan pemuda Jawa itu kandas. Kasih mereka tak sampai ke pelaminan. Restu orangtua sang gadis tak berkenan meneruskan riwayat asmara putih mereka. Tragis. Tragis sekali. Karena di hati siapa pun cinta yang tulus seperti itu singgah, kita seharusnya mengasihi pemilik hati itu. Sebab itu perasaan yang luhur. Sebab perasaan yang luhur begitu adalah gejolak kemanusiaan yang direstui di sisi Allah. Sebab karena direstui itulah Rasulullah saw lantas bersabda, “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali pernikahan.” Islam memang begitu. Sebab ia agama kemanusiaan. Sebab itu pula nilai-nilainya selalu ramah dan apresiatif terhadap semua gejolak jiwa manusia. Dan sebab cinta adalah perasaan kemanusiaan yang paling luhur, mengertilah kita mengapa ia mendapat ruang sangat luas dalam tata nilai Islam. Itu karena Islam memahami betapa dahsyatnya goncangan jiwa yang dirasakan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada tidur. Tak ada aral. Tak ada lelah. Tak ada takut. Tak ada jarak. Yang ada hanya hasrat, hanya tekad, hanya rindu, hanya puisi, hanya keindahan. Puisi adalah busur yang mengirimkan panah-panah asmara kejantung hati sang kekasih. Rembulan adalah utusan hati yang membawa pesan kerinduan yang tak pernah lelah melawan waktu. Dua jiwa yang sudah terpaut cinta akan tampak menyatu bagaikan api dengan panasnya, salju dengan dinginnya, laut dengan pantainya, rembulan dengan cahaya. Mungkin berlebihan atau mungkin memang begitu, tapi siapapun yang melantunkan bait ini agaknya ia memang mewakili perasaan banyak arjuna yang sedang jatuh cinta: separoh nafasku terbang/bersama dirimu. Bisakah kita membayangkan betapa sakitnya sepasang jiwa yang dipautkan cinta lantas dipisah tradisi atau apa saja? Tragedi Zaenudin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Vanderwijck, atau Qais dan Laila dalam Majnun Laila, terlalu miris. Sakit. Terlalu sakit. Karena di dalam jiwa seharusnya itu mustahil. Tragedi cinta selamanya merupakan tragedi kemanusiaan. Sebab it,u memisahkan pasangan suami istri yang saling mencintai adalah misi terbesar setan. Sebab itu menjodohkan sepasang kekasih yang saling mencintai adalah tradisi kenabian. Suatu saat, Khalifah Al Mahdi singgah beristirahat dalam perjalanan haji ke Mekah. Tiba-tiba seorang pemuda berteriak, “Aku sedang jatuh cinta”. Maka Al Mahdi pun memanggilnya, “Apa masalahmu?” “Aku mecintai puteri pamanku dan ingin menikahinya. Tapi ia menolak karena ibuku bukan Arab. Sebab itu aib dalam tradisi kami”. Al Mahdi pun memanggil pamannya dan berkata padanya, “Kamu lihat putera-puteri Bani Abbasiyah? Ibu-ibu mereka juga banyak yang bukan Arab. Lantas apa salah mereka? Sekarang nikahkanlah lelaki ini dengan puterimu dan terimalah 20 ribu dirham ini: 10 ribu untuk aib dan 10 ribu untuk mahar.”

taken from: Serial cinta, Anis Matta di http://serialcinta.blogspot.com

Aku Tidak Akan Berdoa (Lagi!)

November 20, 2009 § 6 Komentar

Ada seorang hamba Allah, beliau rajin shalat malam dan bermunajat, berkhalwat dengan Al-Kholiq. Setiap malam dari kedua matanya yang memerah karena menangis, mengalir air yang membasahi janggutnya, beliau berbisik-bisik lirih memohon beberapa permintaan dan pengharapan.

Dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, hingga putih rambutnya tak kunjung jua permintaan beliau dikabulkan oleh Allah. Permintaannya (di antaranya) adalah agar segera diangkat kemiskinan yang menjadi selimut kehidupannya selama ini, keluarganya sering sakit-sakitan, setiap hari ia keluar untuk berusaha memperoleh rizki Allah tapi tidak tampaklah dilapangkan rezeki itu untuknya. Padahal dahulu, KETIKA IA MASIH BEKERJA MENJADI PETUGAS BEA CUKAI UANG DAN KESENANGAN ADALAH KAWAN AKRAB. Hingga suatu saat ia mendengarkan ceramah yang menjelaskan bahwa penyelewengan yang sering ia lakukan selama ini adalah haram dan tidak membawa keberkahan, kelak penyelewengan ini akan berhadapan dengan hukum Allah yang tidak bisa dibantah lagi di akhirat. Bergetar hatinya, masuk hidayah Allah atasnya. Sejak itu tidak pernah lagi ia melakukan perbuatan tersebut, semakin rajin ia melakukan sholatul Lail mengadukan nasibnya hanya kepada Allah, agar diberikan harta yang halal dan rezeki yang lapang dalam menghidupi hidup ini. Namun, berangsur-angsur seakan terkena kualat (karena meninggalkan perbuatan haram itu) PENGHASILANNYA SEMAKIN MENURUN, BELIAU SEKELUARGA SERING SAKIT DAN MENJADIKAN BADANNYA YANG SEHAT MENJADI KURUS, ANAK SATU-SATUNYA MENINGGAL SETELAH MENJALANI PERAWATAN SELAMA BEBERAPA MINGGU DIRUMAH SAKIT.

Sampai saat itu ia masih bersabar, tak pernah terucap dari mulutnya kata-kata keluhan dan makian atas apa yang menimpa hidupnya. Malahan menjadikannya semakin sering dan khusyu ia mendekatkan diri kepada Allah. Dan malang yang tidak kunjung padam terhadapnya, korupsi yang dahulu ia lakukan bertahun silam terungkap, maka ia dan beberapa orang rekannya terkena pemecatan dengan tidak hormat. Subhanallah, semakin berat rasanya hidup ini baginya. Tambah satu kalimat panjang di malam harinya ia mengadu kehadapan Rabbnya,menangis dan perih rasa batinnya. Setiap dalam sedihnya ia berdoa, selalu ada bisikan lirih di hatinya, “Apa yang engkau harapkan itu dekat sekali, bila engkau bertakwa!”. Setiap mendengar bisikan itu, timbul semangatnya. Kini setelah ia dipecat, ia berdagang. Baginya dagang yang tidak pernah untung, hutang yang semakin bertumpuk, musibah yang seakan tidak berujung _.. ahhhhh. Setelah puluhan tahun ke depan sejak ia dekat dengan Allah setiap malamnya, tidak juga mengubah hidupnya. Sejak puluhan tahun ia mendengar bisikan di atas, tidak juga tampak yang dijanjikan-Nya. Mulailah timbul pemikiran yang tidak baik dari setan. Hingga beliau berkesimpulan, tampaknya Allah tidak ridha terhadap doanya selama ini.

Maka pada malam harinya, ia berdoa kepada Allah,

“WAHAI ALLAH YANG MENCIPTAKAN MALAM DAN SIANG, YANG DENGAN MUDAH MENCIPTAKAN DIRIKU YANG SEMPURNA INI. KARENA ENGKAU TIDAK MENGABULKAN PERMINTAANKU HINGGA SAAT INI, MULAI BESOK AKU TIDAK AKAN MEMINTA DAN SHALAT LAGI KEPADAMU, AKU AKAN LEBIH RAJIN BERUSAHA AGAR TIDAKLAH HARUS BERALASAN BAHWA SEMUA BERGANTUNG DARIMU. MAAFKAN AKU SELAMA INI, AMPUNI AKU SELAMA INI MENGANGGAP BAHWA DIRIKU SUDAH DEKAT DENGANMU !”

Dia tutup doa dengan perasaan berat yang semakin dalam dari awal ia berniat seperti itu (‘mengkhatamkan’ ibadah shalat lailnya). Dia berbaring dengan pemikiran menerawang hingga ia tak mengetahui kapan ia tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi, mimpi yang membuatnya semakin merasa bersalah. Seakan ia melihat suatu padang luas bermandikan cahaya yang menakjubkan, dan puluhan ribu, atau mungkin jutaan makhluq cahaya duduk diatas betisnya sendiri dengan kepala tertunduk takut. Ketika beliau mencoba mengangkat wajahnya untuk melihat kepada siapa mereka bersimpuh, tidak mampu… kepalanya dan matanya tidak mampu memandang dengan menengadah. Beliau hanya dapat melihat para makhluk yang duduk di hadapan Sesuatu Yang Dahsyat.

Terdengar olehnya suara pertanyaan, “BAGAIMANA HAMBAKU SI FULAN, HAI MALAIKATKU ?” nama yang tidak dikenalnya. Seorang berdiri dengan tubuh gemetar karena takut, dan bersuara dengan lirih, “Subhanaka yaa Maalikul Quddus, Engkau lebih tahu keadaan hamba-Mu itu. Dia mengatakan demikian: “Wahai Allah yang menciptakan malam dan siang, yang dengan mudah menciptakan diriku yang sempurna ini. Karena Engkau tidak mengabulkan permintaanku hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan shalat lagi kepada-Mu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah terus beralasan bahwa semua tergantung dari-Mu. Maafkan aku selama ini, ampuni aku selama ini menganggap bahwa diriku sudah dekat dengan-Mu !” Ampuni dia yaa Al ‘Aziiz, yaa Al Ghofuurur Rohiim!” Tersentak beliau, itu… kata-kataku semalam …celaka,pikirnya. Kemudian terdengar suara lagi, “Sayang sekali, padahal Aku sangat menyukainya, sangat mencintainya, dan Aku paling suka melihat wajahnya yang terpendam menangis, bersimpuh dengan menengadahkan tangannya yang gemetar kepada-Ku, dengan bisikan-bisikan permohonannya kepada-Ku, dengan pemintaan-permintaannya kepadaKu, sehingga tak ingin cepat-cepat Kukabulkan apa yang hendak Aku berikan kepadanya agar lebih lama dan sering Aku memandang wajahnya, Aku percepat cintaKu padanya dengan Aku bersihkan ia dari daging-daging haram badannya dengan sakit yang ringan. Aku sangat menyukai keikhlasan hatinya disaat Aku ambil putranya, disaat Kuberi ia cobaan tak pernah-Ku dengar keluhan kesal dan menyesal di mulutnya. Aku rindu kepadanya… rindukah ia kepada-Ku, hai malaikat-malaikat-Ku?” Suasana hening, tak ada jawaban.

Menyesallah dia atas pernyataannya semalam, ingin ia berteriak untuk menjawab dan minta ampun tapi suara tak terdengar, bising dalam hatinya karenanya. “Ini aku Yaa Robbi, ini aku. Ampuni aku yaa Robbi, maafkan kata-kataku !” semakin takut rasanya ketika tidak tampak mereka mendengar, mengalirlah air matanya terasa hangat di pipinya.

Astaghfirullah !! Terbangun ia, mimpii… Segeralah ia berwudhu, dan kembali bersujud dengan bertambah khusyuk, kembali ia shalat dengan bertambah panjang dari biasanya, kembali ia bermunajat dan berbisik-bisik dengan Al-Khalik dan berjanji tak akan lagi ia ulangi sikapnya malam tadi selama-lamanya. “… Allah, Yaa Robbi jangan Engkau ungkit-ungkit kebodohanku yang lalu, ini aku hamba-Mu yang tidak pintar berkata manis, datang dengan berlumuran dosa dan segunung masalah dan harapan, apa pun dari-Mu asal Engkau tidak membenciku aku rela… Allah, aku rindu padaMu…”

taken from: mana ya…

tertulisnya begini: Ikhlas dengan Ketentuan-NYA Dikirim oleh Ashraf Habibullah tanggal 30/07/2002 @04:45:16

Where Am I?

You are currently browsing the inspirasi category at langit LANGIT.