RENTANG WAKTU

Desember 31, 2018 § 2 Komentar

Berhentilah sejenak. Mari merekam ulang kisah. Menghadapkan sepenuh hati pada wajah-wajah mereka yang pernah singgah, meramaikan perjalananmu, memberi senyum rekah dan mata sumringah.

Tinggalkan sejenak. Riuh rendah langkah kaki dan hatimu yang terus berpacu melawan waktu. Demi pencapaian yang entah.

Lupakan sejenak. Tentang hidupmu. Tentang kamu.

Duduklah sejenak. Beri ruang bercengkerama dengan dia yang kau sebut paman, bibi, kakek, nenek, orang tua, sejak lama.

Lalu perlahan mungkin kau akan menerawang ke masa saat mereka masih gagah perkasa, dan kita masih anak kecil yang ceria. Mungkin kau akan menemukan rentang waktu yang panjang. Di mana semua hanya tinggal kenangan.
.
. …semoga jarak yang terentang, membuat kita saling menghujani doa yg panjang…

Doa – Chairil Anwar

Maret 30, 2011 § 27 Komentar

DOA

Tuhanku
dalam termangu
aku masih menyebut namaMu

biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

« Read the rest of this entry »

Hujan Bulan Juni- Sapardi Djoko Damono

Maret 30, 2011 § 15 Komentar

Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

« Read the rest of this entry »

Senja yang Pucat

Februari 16, 2011 § 4 Komentar

Susah payah kau tantang hari

Merajut  harap dari sulur-sulur kehidupan yang tersisa

Kau angkat tegaktegak penyangga kepala

Bersamaan dengan bayang-bayang kemenangan

Namun,

kau dapati gemintang tak jua hilangenggan membagi terang

hanya sepotong senja pucat

yang tersisa

kau merutuki diri sembari menyalahkan angin yang menerbangkan daundaun

Merebahkan batangbatang padi menyentuh tanah

Kau lupa, kesejatian ulur-Nya tergenggam

di batas paling dalam dari kemenyerahan pada-Nya

 

Lalu, kapankah kau akan menyerah?

 

Bekasi, 16.02.11

Termangu

Mei 7, 2010 § 47 Komentar

Menjinjit berkaca;

menelisik bayangan diri yang tak jua terpantul terang

goresan-goresan tipis menambah sketsa tak utuh.

Langit menggelap. Selalukah gerimis menyambangi seusainya?

 

 

:. sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com

Mengelap Kenang

Februari 9, 2010 § 15 Komentar

Kaki memijak, mengelap kenang. Menyisir debuan, menyibak pekat istana laba-laba.
Kuas sisa melukis waktu menggetas teuas.
Mengerjap sekejap;
Memungut jejalin terpilin di jalanan setapak…

:. Mencoba mengurai
Terdengar senandung mengiringi, “Ya Allah, janganlah Engkau serahkan diri kami kepada kami sendiri, sekedip mata pun”. (HR. Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Hibban)

13:51 WIB
09.02.10

Beku

Desember 10, 2009 § 5 Komentar

Sepertinya, langkah ini pun tak lagi memegang utuh sehingga jalanan rata yang ditapaki nyata membuat terayun-ayun. Ditingkahi selarik gerimis, mana nyata mana tiada tak lagi memiliki batas. Ketiadaan membayang.

Berderet kata yang menggumpal beku bertawaf mengitari semakin membawa kegamangan terlempar di negeri antah karena sesenyum Tuhan tak lagi mampu dimengerti, atau menggapai?

kembali menatap bintang melihat bulan berlalu

10.12.09

Where Am I?

You are currently browsing the puisi category at langit LANGIT.