Pulang; Fiksi Mini

Mei 21, 2010 § 29 Komentar

00.30 WIB
“Mbak, pulang sekarang. Bapak meninggal.”
“Ojo guyon?!”
Bapak meninggal mbak, pulango saiki!” Suaranya mulai pecah.
Aku membeku.

:. dibuat untuk menyemarakkan hajatan Wi3nd dan Nda, Wi3nda, Kontes Fiksi Mini ^_^


Melewati hari ini…

Februari 23, 2010 § 9 Komentar

Melewati hari ini tak akan bisa aku menggunakan kata ‘begitu saja’ karena tertoreh dalam catatan tentang sepotong hari milikmu. Ya…memang hanya sepotong. Tak utuh. Tapi, sepotong inilah yang akan menggenapkan segalanya. Memenuhi bingkai indah yang akan mempercantik dinding rumahmu.

Bukan segalanya, tapi menjadi segalanya ketika pandangan menyapu tak sengaja binar milik kedua orangtua. Celoteh mereka yang tak henti hingga menghilangkan kepayahan perjalanan jauh yang telah mereka tempuh semalaman.

Ahhh…, hanya memainkan kata-kata saja bisaku. Nyatanya, hadir pun tak mampu kulakukan. Sangat kontras dengan saat aku merintih-rintih sakit dan kau berjuang mencarikan bubur. Atau, tahu apa mauku tanpa sepatah kata pun terucap.

Siapa bilang kita bersahabat? Kita bukan sahabat. Mana ada sahabat yang tidak bisa menyediakan satu hari saja untuk sahabatnya.

Kita saudara? Saudara dari mana? Orangtuamu pun aku baru bertemu semalam.

Teman? Apalagi ini. Di fb saja tak ada lis namamu. Ga, ga mau berteman! Ogah banget. Ga asyik! Setuju banget aku untuk yang satu ini…hehehe

Siapa pun dirimu, tak penting sahabat, saudara, teman, atau apalah….ternyata benar, Allah mengirimmu untuk nemenin aku makan es krim… .

Ga tau mesti kasih apa ke seseorang yang hari ini pake toga.
Tien, maaf yaah ga bs datang. Cuma bisa mengabadikan di blogku. Yang pasti, hari ini adalah milikmu, yang lebih penting milik orangtuamu.

Kadang, kebahagiaan itu bukan selalu berarti kita membuncah bahagia, tapi kebahagiaan orang-orang terkasih itulah kebahagiaan sesungguhnya.

sumber foto: http://tarmizise.files.wordpress.com

Kosong

Februari 19, 2010 § Tinggalkan komentar

Lagi ga ada ide nulis…
Menulis yang lagi menghangat aja. Apa?? RPM konten, Bank Century, peringatan BMKG tentang cuaca akhir-akhir ini atau siapa dan bagaimana neocons? Lutfi? Semuanya nggak ngerti. Gadget? Apalagi itu… . Komputer sendiri kena virus aja sudah ribut. Cari sms yang keselip di HP aja dua hari nggak ketemu.


Iseng aja, mengamati gambar ini
Membayangkan kalau ujug-ujug pas bangun tidur di pagi hari ada di salah satu bangku yang berderet itu. Tanpa HP apalagi laptop dan jaringan internet. Kira-kira apa yang pertama kali aku lakukan ya…

Sepi…
Berkabut…
Dingin…
Sendiri…
Dan, nggak tahu sedang di mana….

Membincang Peradaban

Januari 29, 2010 § 2 Komentar

Sungguh, kelu diri mengeja kata P-E-R-A-D-A-B-AN. Apalagi ketika menoleh, dan mendapati detak hari yang mengusang.

Mengikuti gerak mata ke deretan buku yang selalu berjajar rapi karena hanya bagian-bagian tertentu saja yang disentuh, mendapati sebuah judul Arsitek Peradaban (Anis Matta). Ada kata peradaban di sana, P-E-R-A-D-A-B-A-N.

Bukan untuk membincang isi buku itu, karena sudah banyak yang membincangkannya, membedah bukunya, bahkan menerapkan isinya. Hanya mengambil satu kata yang ada di sana. Peradaban.

Bukan juga membincang keadaan negeri yang sepertinya semakin carut marut saja. Meski keadaan negeri juga tak akan bisa lepas untuk menjadi wajah peradaban.

Tiba-tiba saja teringat tentang Peradaban Rabbani. Bagaimana hari-hari Rasulullah dan sahabat. Bagaimana mereka sukses membentuk sebuah Peradaban Rabbani yang gemilang dan hidup sepanjang masa meski mereka semua telah tiada di dunia.

Pun keberhasilan penghuni-penghuni akhir zaman ini mnjaga dan meneruskan warisan sang Nabi.

Kemudian mematut diri. Menelisik keseluruhan hari. Peradaban Rabbani pasti akan hadir di bumi ini. Pasti. Hanya, siapa pengusungnya? Apa diri ini menjadi salah satu bagian? Mematut kembali.

Jika hanya selalu mengalah pada hari yang kamu lakukan. Jika selalu mengeja detik yang dipertahankan. Jika hanya berdecak melihat kebaikan orang lain dan rela menggelincirkan diri pada jalan yang pekat. Jika…. Mana mungkin Peradaban Rabbani akan muncul di rumah hatimu. Seberapa pun ingin dirimu.

office,
nice Jum’at

Beku

Desember 10, 2009 § 5 Komentar

Sepertinya, langkah ini pun tak lagi memegang utuh sehingga jalanan rata yang ditapaki nyata membuat terayun-ayun. Ditingkahi selarik gerimis, mana nyata mana tiada tak lagi memiliki batas. Ketiadaan membayang.

Berderet kata yang menggumpal beku bertawaf mengitari semakin membawa kegamangan terlempar di negeri antah karena sesenyum Tuhan tak lagi mampu dimengerti, atau menggapai?

kembali menatap bintang melihat bulan berlalu

10.12.09

Abiseka

November 21, 2009 § 2 Komentar

Jikalau nyeri kau anggap kematian, niscaya mati itu sudah singgah berkali-kali ke sini. Lalu…pepatlah segalanya menunggu lumat.

Abiseka;

Guyurannya telah menjadi satu-satunya jalan untuk kembali menemukan Dia dalam senyum.

 

:. Menyaksikan thawaf kedua bulan menentang matahari

17:11

21.11.09

nunggu ujan

Layang-layang

Oktober 24, 2009 § Tinggalkan komentar

layang2Layang-layang itu, layang-layang yang talinya dilepaskan dari ulasan. Ditarik, diulur. Meluncur menukik membentur tanah. Membesret pagar. Terjebak ranting. Ditampar angin yang kemudian dengan suka rela membantu menegakkannya, mendorong untuk melesat ringan menyentuh langit, dan mengantarkannya hingga sampai pada maqam seharusnya. Lepas. Bebas.

Membuka pintu rumah, melewati gerbang, menyambut terpaan sinar matahari dengan senyuman.  …..senyum mengembang, begitu indah menjalari setiap lorong bernama hati.

Sungguh,

Indah sekali rasanya.

“Wah, hari ini ada yang lagi bahagia.” Celetukan yang mampir menambah lebar lengkungan di bibir.

Lihatlah, sekarang pun bibir masih melengkung senyum bersama rasa ringan yang seakan mampu membawa terbang melintasi awan menembus atmosfer bumi. Berayun-ayun di angkasa dan bercengkerama dengan bintang membicarakan matahari yang tak pernah berkedip.

* hutangku lunas malam tadi

^_^

13:55WIB
24.10.09

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with bebas at langit LANGIT.