IBF Award ke-11

Maret 12, 2012 § 8 Komentar

Ah, begitu baiknya Ia.

Begitu pemurahnya Ia memberi penyebab tersenyum padaku. Setelah kejutan di bulan sebelumnya, Ia memberi kejutan lagi.

Suatu pagi, ada sebuah undangan berwarna hijau mampir di meja kerjaku yang [selalu] berantakan oleh tumpukan buku yang sebenarnya belum tentu dibaca. Di depan undangan itu ada namaku tertulis, hmm..tepatnya nama penaku. Wuiihhh..rasa-rasanya itulah undangan paling mendebarkan di antara undangan-undangan yang aku terima sejak dulu.

« Read the rest of this entry »

(Beginilah seharusnya) Memperkenalkan Buku

Maret 2, 2012 § 5 Komentar

1001 Inventions: Muslim Heritage in Our World
Salim T. S. Al-Hassani, Elizabeth Woodcock, Rabah Saoud,Foundation for Science Technology and Civilisation (U.K.)
2006
364 halaman

Media Digital vs Media Cetak

Agustus 18, 2011 § 28 Komentar

“Bagaimana menurutmu ‘nasip’ media cetak di era digital yang semakin berkembang ini? Bisakah buku cetak bertahan?”
“Bisa,” jawabku PeDe.
“Yakin sekali,” kata sang penanya diikuti senyum.
“Karena menurut saya walau bagaimanapun untuk membaca dalam jangka waktu yang lama masih lebih nyaman membaca di buku daripada di komputer. « Read the rest of this entry »

Menikmati Proses

Februari 15, 2010 § 16 Komentar

Seringkali rasa useless datang saat kita melihat orang lain lebih hebat dari kita dan telah meraih kesuksesan. Takjub. Di bidang apa pun itu. Itu sih yang kadang (atau sering ya?) saya rasakan. Membaca buku (jadi ngerucut ke buku nih..:-) ) yang dulu ‘hanya’ membuat saya berpikir tentang isinya yang bagus, sekarang bertambah satu lagi pikiran, hebat penulisnya bisa menggerakkan orang lain melalui tulisannya. “Bisa nggak ya aku seperti mereka?” Itu pertanyaan selanjutnya yang muncul.

“Jangan hanya melihat kesuksesannya sekarang aja, Ka.” Kata Bunda Nanit suatu ketika, saat berbagi perjalanannya di dunia tulis-menulis. “Coba kamu korek kisah perjuangannya menuju ke sana. Kegigihannya, dan apa usaha yang telah dilakukan, kemudian tirulah.”

Apa pun dalam hidup ini pasti membutuhkan proses. Dan, hanya mereka yang berhasil menikmati proseslah yang akan keluar menjadi pemenang. Mereka yang tidak bisa menikmati proses, merekalah pecundang yang hanya berpikir mendapatkan segala sesuatu dengan instan.

Nah, bagaimana menikmati proses inilah yang menarik. Menikmati proses ala orang hebat tentu bukan hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Menikmati proses bukan hanya menunggu momentum, tapi menciptakan. Lalu, bagaimana cara orang hebat menikmati proses?

Share pendapat aja ya..berdasarkan hasil amat-mengamati kecil-kecilan, saya mendapatkan beberapa poin untuk menasihati diri sendiri. Cek..cek..cekidot… 

a. Menjadi musuh utama malas
Hal yang belum bisa saya lakukan. Saya tidak suka konflik jadi daripada memusuhi mendingan saya berdamai. Hehehe. Meskipun tahu kalau berdamai dengan malas seperti bunuh diri secara perlahan-lahan.
b. Miliki target
Hasil ngobrol-ngobrol dengan Mbak Ryu (sebenarnya sudah sering disampaikan oleh penulis-penulis senior juga, hanya ini lebih terasa karena disampaikannya baru dan bertatap muka lagi.
“Memang harus punya target Ka,” katanya. “Aku punya target sehari aku harus punya satu tulisan, apa pun itu. Kalaupun tidak sempat menjadi sebuah tulisan yang utuh, minimal ide besarnya sudah ada.”
c. Disiplin
“Aku selalu maksain pulang kerja harus nulis meskipun baru lembur atau kerjaan di kantor lagi padet.” Masih kata mbak Ryu. Hee…aku mah, kebanyakan ngasih permisif ke diri sendiri, Mbak. Capai sedikit aja udah pengen memanjakan diri,” kata saya.
Disiplin…disiplin…disiplin… disiplin dengan target. Dengan usaha untuk mencapai target.
d. Berani mencoba
Ini sih mutlak harus. Mulai dari berani mencoba untuk menulis. mencoba untuk mempublish tulisan sampai mencoba mengirimkan ke penerbit.
e. Pantang menyerah
Tulisan ditolak sekali..dua..tiga…sepuluh…tidak boleh membuat kita menyerah. Karena cerita orang-orang sukses tidak pernah mengenal kata menyerah. Menerima banyak kritikan, bukan membuat mundur, tapi justru harus terus maju karena pada hakikatnya kritikan tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas tulisan kita.
f. Mengambil peluang melalui perlombaan.

Untuk weekend seru bareng Mbak Ryu 
sumber foto: http://i479.photobucket.com/albums/rr154/numallie/Graphics/write.jpg

Review Libri di Luca

Januari 20, 2010 § Tinggalkan komentar

Judul     : Libri di Luca (Rahasia Pencinta Buku)

Penulis : Mikkel Birkegaard

Genre   : Fiksi

Penerbit: Serambi

Halaman: 588

Finished!

Yakfiy!

Itu kata pertama kali yang ingin saya teriakkan. Selanjutnya, masih menyapukan pandangan ke seluruh ruang baca Bibliotheca yang berada di lantai atas. Buku berserakan, mayat bergelimpangan. Merasai bau hangus buku terbakar dan percikan-percikan listrik akibat kekuatan Jon Campelli sebagai Lektor pemancar yang dahsyat dan ulah organisasi bayangan. Di ujung, dekat mimbar, tampak Remer si ketua ordo organisasi bayangan sedang terus membaca buku hitam yang dipegangnya, tapi tampak jelas wajahnya tidak sesantai tadi, wajah pucat pasi dan darah mulai merembes dari lubang hidung dan telinganya. Dia sedang berjuang dengan maut akibat ketamakannya sendiri.  Sementara, Jon Campelli berjalan melintasi sambil tersenyum tipis, seakan mau mengatakan, “Kami tunggu Anda di Libri di Luca”. Dia berjalan dibantu Katherina karena kakinya terkilir saat berusaha melawan Remer. Mereka tampak sedikit terburu-buru.

Saya melongo kemudian menggumam, “Kira-kira aku pemancar atau penerima ya?”

Whooowww… . begitulah Mikkel Birkegaard  (saudaraan sama Kirkegaard , kah??) mengajak bertualang dari Kopenhagen, Denmark sampai ke Bibliotheca Alexandrina, Alexandria, Mesir. Berawal dari perpustakaan milik keluarga Campelli yang bernama Libri di Luca.

Tidak banyak orang yang tahu rahasia lain dari Libri di Luca, selain hanya melihat sebagai sebuah perpustakaan biasa. Kecuali, orang-orang yang sudah bergabung dengan organisasi pecinta buku. Anggota organisasi ini memiliki keistimewaan bisa mendengarkan orang yang sedang membaca dari jarak yang jauh dan bisa mengendalikan pikiran orang tersebut. Menggiring persepsi yang ditangkap dari bacaan tersebut sesuai dengan yang diinginkan, membantu konsentrasi membaca atau membuyarkan, sampai membuat orang malas membaca buku itu. Ini keahlian Lektor Penerima. Sementara, Lektor   Pemancar memunyai kekuatan memengaruhi orang melalui buku yang dibacakan oleh mereka. Membacakan cerita dan membuat pendengarnya tenggelam bersamanya dalam cerita tersebut adalah keahliannya sambil memberikan tekanan emosi untuk lebih menguatkan cerita.

…..Sepertinya, Indonesia membutuhkan banyak Lektor berhati baik untuk mengadakan pembacaan terhadap orang-orang yang duduk di pemerintahan sehingga bisa menyuci otak mereka supaya pikirannya positif dan tidak pernah berpikir untuk korupsi…. ^_^.

Letupan kisah ini dimulai dengan terbunuhnya Luca Campelli, pemilik Libri di Luca setelah perjalanannya dari Mesir. Awalnya, semua orang menganggap kematian Campelli di perpustakaan sebagai suatu yang wajar, hingga terjadi pelemparan bom Molotov ke dalam perpustakaan itu. Jon Campelli, anak Luca, yang semula tidak terlalu peduli dengan ayah dan Libri di Lucanya mulai terusik kecurigaannya hingga memutuskan untuk minta diaktifkan sebagai Lektor.

Kematian Luca berbarengan dengan naik daunnya karier Jon sebagai pengacara. Jon mendapat kasus keren yang dapat melejitkan kariernya lebih tinggi lagi, yaitu kasus yang berhubungan dengan seorang pengusaha licin bernama Remer.

Jon tidak pernah mengira kalau pertemuannya dengan Remer justru merupakan awal dari perubahan hidupnya, karena ternyata Remer adalah seorang Lektor dari organisasi bayangan dan dalang dari pembunuhan ayahnya, Luca.  Ketika Remer mencium gerak Jon menyelidiki kematiaan ayahnya dan kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini, Remer tidak mau lagi menerima Jon sebagai pengacaranya dan ini mengakibatkan Jon dipecat dari kantor hukumnya.

Kisah selanjutnya dipenuhi dengan usaha Jon menguak organisasi bayangan dan berusaha menyatukan kembali Lektor penerima dan Lektor Pemancar yang sudah terpisah sekira 20 tahun. Serta tersadarkannya Jon bahwa Luca membuang Jon dari kehidupannya justru karena cintanya yang begitu besar pada Jon.

Pemecatan tanpa alasan yang diterima Jon dan keras kepalanya Remer ingin membeli Libri di Luca telah membuat Jon yakin Remer ada hubungannya dengan organisasi bayangan. Jon melacak Remer dan menemukan markasnya. Jon menyatroni markas tersebut tanpa menyadari kalau dia sedang dijebak karena ternyata ada pengkhianat di Libri di Luca.

Apa yang terjadi pada Jon? Jon disandra, dibawa ke Alexandria untuk dijadikan tumbal.

Di dunia nyata pun, benarlah kalau buku itu memiliki kekuatan untuk memengaruhi pikiran pembacanya. Menyuci otaknya dan akhirnya berperilaku seperti yang diinginkan penulis.

Keterlibatan saya sendiri dalam perjalanan Campelli dimulai saat ‘iseng’ search buku baru, baca judul yang unik terus kata-kata ‘rahasia pecinta buku’ langsung memasukkan judul ini ke list. Apalagi ketika ada kata Bibliotheca Alexandrina 😀 . Tapi, sempat tergilas hari sih, dan ingat saat ada teman tanya, “Novel yang tentang rahasia pecinta buku itu apa judulnya?” Daaannn….wuuusss…langsung terpatri, Aku harus beli! Meski sempat kehilangan greget di tengah cerita, dan terganggu dengan ‘interaksi’ Jon-Katherina, membaca dan membeli buku ini tidak membuat saya kecewa. Mungkin, jika karakter tokohnya diperkuat dan konfliknya dipertajam akan lebih yummy… .

15:08 WIB

20.01.10

Menjaring Ide

Desember 11, 2009 § Tinggalkan komentar

“Asli! Aku ga nyangka kalo kamu ternyata bandel juga pas kecil.”

Kalimat yang meluncur dari seorang teman ini jadi mengingatkan. O iya..ya…kenapa ga coba ambil lagi ide coret-coret dari masa kecil. Masa kecil, kan, sumber kaya untuk menjaring ide. Dan itu benar lo. Menyelami kembali masa kecil dan mencoba menemukan frekuensi emosi yang sama biasanya bisa mencetuskan ide. Apalagi buat teman-teman yang tertarik untuk menulis buku anak.

Ehm..jadi inget beberapa tips yang disajikan dalam beberapa buku tentang cara mendapatkan ide. Saya share yaah, siapa tahu bermanfaat sambil mengingatkan diri sendiri juga untuk selalu bisa menggali ide. Hehehe.

Masa kecil

Sejak mulai kita inget deh…semua-mua bisa menjadi bahan ide. Waktu pertama kali belajar naik sepeda, misalnya. Atau cita-cita waktu kecil. Pokoknya banyak banget kalo kita bisa menggali lagi. Selain mengandalkan ingatan sendiri, bisa juga diperkaya dengan bertanya ke orang-orang yang mengiringi tumbuh kembang masa kecil kita. Bisa orangtua, kakak, bibi, paman, tetangga, teman, dan lainnya.

Jadi inget sebuah kisah… .

Waktu kecil, saya dan teman-teman di TPA pernah mengadakan kudeta kecil-kecilan. Kita punya rencana besar. Begini ceritanya.

“Hoii…Pak Tar datang… .”

Grubug..grubug…semua langsung berlari menuju satu arah yang sama. Bukan ke dalam masjid tentu saja. Tapi, menyelinap ke kebun di belakang rumah warga. Lengkap dengan buku iqro’ dan kerudung di tangan untuk pasukan putri.

“Ssstttt… .” jangan berisik nanti ketahuan.

“Masih ada nggak?”

“Biar ngerasain  Pak Tar.”

“Habisnyaaaa..keseringan sih nggak datang. Padahal kan kita selalu nungguin.” Timpal yang lain.

Hm..benar,kan, masa kecil itu bisa jadi tempat mengumpulkan ide? :-D. Pasti teman-teman juga punya cerita masing-masing yang lebih seru.

Mimpi

Setiap kita pasti pernah bermimpi ketika tidur kan ya. Naaah, bahan yang seru juga nih buat diolah menjadi berbagai ide.

Coba teman-teman inget-inget semalem mimpi apa, trus buatlah tulisan dari mimpi itu. Jadi sebuah cerita kaaan? ^_^

Kalo teman-teman pernah mimpi bisa terbang, bisa juga itu jadi ide naskah fiksi.

Lingkungan sekitar

Inilah salah satu rahasianya kenapa dalam pelatihan kepenulisan sering disampaikan bahwa untuk menjadi seorang penulis harus memaksimalkan semua indra yang ada. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh semuanya direkam dalam otak. Jeli terhadap lingkungan itu kuncinya.

Seperti anak kecil yang melihat burung memberi makan anaknya di pohon dan kemudian menuangkan apa yang dilihatnya dalam bentuk tulisan, teman-teman pun bisa mengambil semua kejadian yang terserak dan memilih yang paling menarik untuk kemudian diolah menjadi tulisan.

Pengalaman pribadi

Mendapat ide kemudian menuangkan yang paling gampang pastinya dari pengalaman pribadi. Pasti ada pengalaman pribadi teman-teman yang menarik, bukan? Tunggu apalagi? Tuangkan saja idenya dan weeessss terciptalah sebuah karya.

Orang lain

Tenang saja. Menjadikan orang lain sumber ide nggak melanggar undang-undang kok. Hehehe. Teman-teman bisa mengambil ide dari karakter-karakter mereka, pengalaman hidup mereka dan lainnya. Beruntunglah teman-teman yang biasa menjadi tempat curhat karena itu artinya kebanjiran harta karun ide.

Baca buku

Ide, menulis, dan membaca itu satu kesatuan yang nggak bisa dipisahkan. So, banyak membaca itu mesti. Dari buku yang teman-teman baca pasti akan keluar banyak ide segar. Kalo selama ini teman-teman sudah banyak membaca tapi belum mendapat ide baru dari bacaan itu, coba deh perbaiki cara membacanya. Misalnya bacanya jangan sambil tidur. Hehehe. Yang pasti membaca dengan semua indra, bukan Cuma mata.

Nonton film

Bagi yang suka nonton film, manfaatkan juga untuk menjaring ide di sana. Kalau radar pencarian ide sudah dihidupkan, pasti banyak ide yang bakal tertangkap. Tapiiii, hal ini juga harus dimulai dengan pemilihan tontonan yang bermutu dan bernilai kreatif yang tinggi. Tentulah untuk masalah ini teman-teman sudah sangat mengerti. ^_^

Dongeng

Jangan sepelekan dongeng. Dari dongeng dan sejenisnya pun ide bisa teman-teman jaring.

Jalan-jalan

Pastinya. Jalan-jalan kemana pun adalah momen yang sangat tepat untuk menjaring ide. Banyak penulis yang menghasilkan karya besar mendapatkan idenya itu ketika melakukan perjalanan. J.K. Rowling (Rowling lagi..:-D) juga kan ketemu si Hary di kereta waktu mengadakan perjalanan. Seno Gumira Ajidarma membuat ‘Negeri Senja’ juga terinspirasi perjalanannya ke Maroko.

Jalan-jalan ke toko buku

Kalau poin 9 sifat jalan-jalannya bebas ke mana saja. Nah, kalo ini mengerucutkan jalan-jalan ke toko buku. Melihat-lihat judul buku best seller dan buku yang lagi ngetren sambil baca-baca.

Ikut pelatihan

Selain merangsang keluarnya ide, ikut pelatihan menulis atau semacamnya ini perlu diikuti untuk membangun dan mengembangkan jaringan atau menemukan komunitas yang akan mendukung perkembangan ide-ide teman-teman.

Emosi

Bahagia, sedih, senang, dan rasa yang lain bisa jadi pemicu yang bagus untuk menghadirkan ide.

Cita-cita, mimpi, atau obsesi.

Hm…apa lagi ya, ada yang mau nambahin? Boleh mangga.

:. Berbagai sumber

Resensi Novel Dongeng Semusim

November 30, 2009 § 8 Komentar

Sefryana Khairil membuat kisah ini terabadikan berawal dari dua esmud (eksekutif muda) yang kepentok cinta. Nabil, seorang designer advertising, workaholic, dan memiliki prinsip hidup adalah untuk having fun dan belum pernah benar-benar jatuh cinta bertemu dengan Sarah, pimpinan redaksi sebuah tabloid masakan yang ternama di ibukota yang menurutnya sangat berbeda dan istimewa, pun sebaliknya.

Saat itu Sarah sedang mencari seorang fotografer handal untuk memotret berbagai jenis masakan yang akan terpampang di tabloid terbitan terbaru. Nabil sang fotografer itu. Dan, mereka berdua jatuh cinta. Baru kali ini mereka berdua benar-benar jatuh cinta sampai-sampai tidak ragu lagi untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Bahkan, Sarah berani mengambil keputusan yang sangat besar demi rasa cintanya ini. Sarah telah memilih berpindah agama. Meski berkonflik dengan orangtuanya, ini tidak menyurutkan langkahnya.

Gesekan mulai ada dari bab pertama, yaitu mulai dari perencanaan pernikahan yang hampir semua Sarah yang harus mengurus sedangkan Nabil tampak acuh. Ini kembali lagi ke slogan hidupnya, having fun. Jadi, pernikahan menurutnya juga hanya sebatas having fun. Dan, gesekan ini lenyap sebentar setelah mereka menikah. Mereka berdua hidup bahagia layaknya sepasang pengantin baru sampai akhirnya Sarah dinyatakan hamil.

Nabil menganggap anak adalah beban dan berpotensi mengancam slogan hidupnya. Ditambah lagi Sarah sedikit demi sedikit berubah lebih mengetahui ajaran Islam dan berusaha sebisanya untuk melaksanakan. Hanya karena Sarah membeli kaligrafi telah merusak mood Nabil dan membuatnya uring-uringan. dan semakin menjadi-jadi ketika Sarah memutuskan untuk memakai kerudung. satu hal yang Sarah tidak tahu selama ini, ternyata Nabil tidak pernah menjalankan segala yang ada dalam Islam karena agama menurutnya, membuatnya terkekang dan tidak bisa menikmati hidup.

Pertengkaran-pertengkaran mulai terjadi, dari hal-hal sederhana yang tidak ada hubungannya dengan inti permasalahan. ‘Ketidakdewasaan’ Nabil dalam memandang pernikahan dan hidup memperkeruh keadaan karena bukannya menghadapi masalah yang ada, Nabil justru pergi tanpa pamit dalam waktu yang tidak sebentar.

Nabil ‘sadar’ dengan ‘ketidakdewasaannya’ saat Sarah masuk rumah sakit karena pendarahan akibat keguguran karena trelalu capek dan stres dengan sikap Nabil. Begitulah, seringkali kesadaran akan rasa sayang itu hadir saat kehilangan mengancam.

Saat mengalami kemelut itulah Nabil akhirnya kembali ke pangkuan Allah. Menata hubungannya dengan Tuhannya. dan mengakui kalau kebebasan yang dia inginkan dalam menjalani hidup ini, kebebasan yang melupakan Tuhan pada akhirnya akan membuat hidupnya kacau.

“Tuhan…

Apakah ada kesempatan untuk memohon pada-Mu?

Setelah kejadian itu, Sarah memutuskan menenangkan diri di rumah orangtuanya. Nabil semakin merasakan penyesalan. Dia terus berjuang untuk mengajak Sarah pulang, tapi Sarah masih gamang. apakah benar Nabil telah berubah dan akan berusaha membahagiakannya.

Happy ending. Novel ini cukup memberi pelajaran tentang bangunan pernikahan. Kalau pernikahan bukanlah akhir, tapi awal dari segalanya yang untuk mengarunginya sampai ujung perjalanan tidak cukup ‘hanya’ berbekal cinta dan keberanian, tapi juga komitmen yang kuat yang berdiri atas nama Tuhan. Sefryana Khairil berhasil memberikan pesan itu tanpa menggurui.

Sedikit yang mengganjal adalah adanya ketidakkonsistenan pengambaran tokoh Sarah dalam berkerudung. Diceritakan berubah memakai kerudung, tapi di beberapa kesempatan diceritakan rambutnya atau dipegang rambutnya. Tapi ini nggak terlalu mengganggu kerenyahan cerita.

“Tuhan tahu kamu adalah orang yang bisa melengkapi Nabil. Orang yang bisa melindungi dia jauh dari dirinya sendiri.”

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with buku at langit LANGIT.