Rambutan dan Cinta’nya’ padaku

Februari 13, 2013 § 21 Komentar

Sudah beberapa minggu ini, hampir di sepanjang jalan yang aku lalui ada penjual rambutan. Selalu saja aku melihat sejenak pada tumpukan rambutan itu. Bukan karena ingin membeli. Tetapi karena tumpukan rambutan itu selalu mengingatkanku padanya. Pada salah satu cara dia menyayangiku. Salah satu cara dia mengistimewakanku.

Dulu, setiap Februari selalu ada cerita tentang aku, dia, dan rambutan….
Tetapi sekarang sudah tidak lagi

« Read the rest of this entry »

Memeluk Rindu #sebabperjalananadalahteman-10

September 10, 2012 § 6 Komentar

mengapakah rindu? karena cinta ini mengadu,
« Read the rest of this entry »

Cinta Sederhana

April 23, 2010 § 14 Komentar


Tap..tap…
Langkah kakinya menapaki halaman rumah itu dengan ringan, seringan hatinya saat ini. Sesungging senyum telah menghiasi bibirnya sejak beberapa saat yang lalu. Segala beban hidup dan kegundahan seakan menguap bersama semilir angin yang lewat.
“Assalamualaykum…”ucapnya sengaja keras dan manja!.
Hampir setengah tahun tak bersua menjadikan kumpulan rindu itu meluap, menyambut dengan binar mata penuh. Selalu begitu!
*****

Hari pertama;
Capek ya nduk…? Dari sana jam berapa? Kok sesiang ini baru nyampe? Bla…bla…
Hari kedua;
Nduk, hari ini mau masak apa?”
“Apa ya…? Terserah Ibu aja deh, tapi…kayaknya masak bayam enak deh Bu. Apalagi pake lauk ikan. Hehe….”
Tak berapa lama sang ibu telah kembali dengan seikat bayam dan sekantong ikan segar.
Hari ketiga;
Saat santai keluarga tiba-tiba sang anak nyeletuk,
“Wah kalo diingat-ingat dah lama aku nggak makan nagasari ya Bu, emang sekarang masih ada orang jualan makanan itu ya, Bu?” tanya sang anak kepada ibunya.
“Ya masihlah… ,”jawab ibunya pendek sambil tersenyum.
*****

Keesokan harinya, hari masih pagi ketika sang ibu muncul dari pintu depan dengan membawa sekantong plastik.
“Nih… ,”kata sang ibu sambil menyodorkan plastik ke anaknya.
“Ini apa, Bu?” tanya sang anak sambil membuka plastik.
Beberapa saat kemudian…
“Wow…subhanallah, makasih…” jawabnya dengan riang. Ternyata plastik itu berisi nagasari yang masih hangat. Ibunya membelikan makanan yang kemarin dia sebut, padahal dia tidak meminta!
“Habiskan…”.kata sang ibu sambil berlalu ke dapur.
Pagi berganti, siang pun tlah pergi, malam beranjak dan pagi pun menyapa lagi. Kantong plastik itu ternyata masih ada isinya. Tidak habis. Basi!
Apakah sang ibu marah?
Apakah sang ibu kapok membelikan makanan?
Apakah sang ibu bosan bertanya hari ini mau makan apa?
Tidak!
Ibu tidak marah
Ibu masih selalu membelikan makanan.
Ibu masih selalu bertanya hari ini mau masak apa.
Ibu masih selalu memasak makanan kesukaan anak-anaknya.
*****

Apakah setiap ibu akan selalu membuatkan makanan kesukaan anak-anaknya? Kata Ari Nur melalui tokoh Ryan Fikry dalam salah satu novelnya.
Kalau begitu…betapa bahagianya menjadi seorang anak.
Selalu mendapat cinta yang penuh.
Cinta yang tulus.
Selalu ada.

Makasih ibu
Luv u
Jatinangor, 25 November 2006

>>menemukan di tumpukan file kosong, memposting sambil mengingat 2 malam kemarin saat ibu nyiapin oleh2 buatku sampai jam 1 malam, dan aku hanya menunggunya sambil terkantuk2. Keberkahan selalu untukmu Bue… . Luv u…luv u…luv u…^_^

Aku Mencintaimu Tanpa Batas

Maret 19, 2010 § 18 Komentar

“Aku mencintaimu tanpa batas.”
Begitu salah satu baris puisi yang dipersembahkan oleh Pepeng untuk istri tercintanya, Ibu Tami, dan dibacakan oleh Ibu Tami sambil menahan tangis haru di satu jam lebih dekat, salah satu acara di stasiun tv swasta semalam.

Kereeen. Untuk perjuangan hidupnya dan penerimaannya terhadap penyakit Multiple Sklerosis, jenis penyakit langka yang diderita oleh satu orang dari 2 juta orang di dunia, yang telah dideritanya selama empat tahun terakhir ini. Untuk semangatnya. Senyumnya yang tak pernah lepas. Untuk Ibu Tami.

Benar-benar orang pilihan. Keluarga pilihan. ‘Dipilih’ dari 2 juta manusia lain untuk merasakan penyakit itu. Dan pilihaannya untuk menerima takdir dengan ikhlas membuatnya benar-benar menjadi manusia pilihan yang istimewa.
“Bagaimana proses Bang Pepeng berdamai dengan penyakit ini?” salah satu pertanyaan Indi Rahmawati.
“ Waah….peperangannya dahsyat. Ada perdamaian, pasti setelah terjadi peperangan, bukan?”
*****
Sungguh. hebat.
Untuk keikhlasannya. Untuk semangat hidupnya. Dengan kondisi badan yang mengharuskan berbaring di tempat tidur selama 24 jam, beliau berhasil menyelesaikan kuliah S2nya. Tak hanya itu, tapi banyak hal lain yang dilakukan, termasuk menjadi dosen tamu di salah stu perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Malu.
Malu sebagai seseorang yang sehat wal afiat. Bisa pergi ke mana pun yang aku mau dan melakukan apa pun ternyata tidak membuat diri memiliki kreativitas dan semangat sebesar beliau. Tidak berjiwa besar seperti beliau. Banyak mengeluh dan bertanya pada Tuhan tentang sesuatu yang tidak dimiliki, padahal yang dimiliki lebih banyak.

office
nice jumat

Aku, Hujan, dan Cinta

Februari 15, 2010 § 15 Komentar

Aku suka hujan
Hujan selalu membuatku merasa istimewa
Jika aku boleh memohon, pasti aku akan selalu memohon hujan pada-Nya

Aku suka hujan
Hujan membuatku dilimpahi perhatian
Kecipak air di jalanan seakan ikut senang dengan kebahagiaanku saat hujan

:. Sore hujan
Lihatlah, betapa perhatiannya dia padaku
Beberapa menit sekali pasti dia memerhatikanku. Memastikan tak terjadi apa-apa padaku. Meloncat, memilih jalanan yang aman bagiku selalu dia lakukan. Bahkan, kalau perlu dia rela menunggu berjam-jam sampai hujan reda demi aku. Agar aku besok masih bisa menemani harinya.

:. Gerimis
Lihatlah, dia lebih memilih menutup payungnya. Berjalan dengan sangat hati-hati, Tentu untuk membuatku baik-baik saja. Sesekali menengadah ke langit, memejamkan mata, membiarkan gerimis riuh menyentuh wajahnya. Ahhh..sepertinya dia sangat menikmati, padahal aku tahu gerimis juga yang telah mengenalkannya pada luka. Dia kadang memang aneh kalau sudah berurusan dengan gerimis.

Sudahlah, yang penting gerimis bagian dari hujan
Dan aku suka
Aku suka saat dia dengan susah payah menghindarkan aku dari basah dan tanah yang akan membekas cokelat padaku. Saat dia lebih memilih menunggu hujan reda dari pada membiarkanku kedinginan tenggelam oleh genangan air dan terpaksa membawa lumpur di seluruh tubuhku.

Aku suka hujan
tapi, aku lebih suka dia yang menyukaiku dan memberi kesempatan padaku untuk melindungi kakinya. Karena aku pernah mendengar, entah di mana aku lupa, perempuan memang harus menutupi kakinya dengan mengenakanku karena itu termasuk aurat juga.

Oiya, perkenalkan namaku kaos kaki… 

23:16 WIB
My room

sumber foto: http://delaney55.files.wordpress.com/2009/03/rainy-day.jpg

Temu Jiwa Temu Fisik

November 16, 2009 § 4 Komentar

Shalatnya panjang dan khusuk. Keluh dan resah mengalir dalam doa-doa. Hasrat dan rindu merangkak bersama malam yang kian kelam. Usai shalat perempuan itu akhirnya rebah di pembaringan. Cemasnya belum lunas. Lama sudah suaminya pergi. Untuk jihad, memang. Tapi cinta tetaplah cinta. Walaupun jihad, perpisahan selalu membakar jiwa dengan rindu. Maka ia pun rebah dengan doa-doa; “Ya Allah, yang memperjalankan unta-unta, menurunkan kitab-kitab, memberi para pemohon, aku memohon pada-Mu agar Engkau mengembalikan suamiku yang telah pergi lama, agar dengan itu Engkau lepaskan resahku. Engkau gembirakan mataku. Ya Allah, tetapkanlah hukum-Mu di antara aku dan khalifah Abdul Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami”.
Untungnya malam itu Khalifah Abdul Malik bin Marwan memang sedang menyamar di tengah pemukiman warga. Tujuannya, ya, itu tadi; mencari tahu opini warga soal pengiriman mujahidin ke medan jihad, khususnya istri-istri mereka. Dan suara perempuanlah itulah yang ia dengar.

Ini tabiat yang membedakan cinta jiwa dari cinta misi; pertemuan jiwa dalam cinta jiwa hanya akan menjadi semacam penyakit jika tidak berujung dengan sentuhan fisik. Disini rumus bahwa cinta tidak harus memiliki tidak berlaku.

Cinta jiwa bukan sekedar kecenderungan spritiual seperti yang ada dalam cinta misi. Cinta jiwa mengandung kadar syahwat yang besar. Dari situ akar tuntutan sentuhan fisik berasal. Mereka menyebutnya passionate love. Tanpa membawa semua penyakit. Sebagaimana hanya akan berujung kegilaan. Seperti yang dialami Qais dan Laila.

Ini mengapa kita diperintahkan mengasihi para pecinta; supaya mereka terhindar dari cinta yang seharusnya menjadi energi, lantas berubah jadi sumber penyakit. Maka sentuhan fisik dalam semua bentuknya adalah obat paling mujarab bagi rindu yang tak pernah selesai. Ini juga penjelasan mengapa hubungan badan antara suami istri merupakan ibadah besar, tradisi kenabian dan kegemaran orang shalih. Sebab, kata Ibnu Qayyim dan Imam Ghazali, ia mewariskan kesehatan dan jiwa raga, mencerahkan pikiran, meremajakan perasaan, menghilangkan pikiran dan perasaan buruk, membuat kita lebih awet muda dan memperkuat hubungan cinta kasih. Makna sakinah dan mawaddah adalah ketenangan jiwa yang tercipta setelah gelora hasrat terpenuhi,

Makna itu dapat dipahami Abdul Malik bin Marwan. Maka ia pun bertanya, “Berapa lama wanita bisa bertahan sabar?” “Enam bulan” jawab mereka. Kisah itu sebenarnya mengikuti pada temuan yang sama dimasa Umar bin Khattab. Dan di kedua kisah itu, kedua perempuan itu sama-sama melantunkan syair rindu dan hasrat, dan Abdul Malik bin Marwan mendengar bait ini;

air mata mengalir bersama larut malam
sedih mengiris hati dan merampas tidur
bergulat aku lawan malam
terawangi bintang hasrat rindu mendera-dera
melukai jiwa

Memang hanya puisi tempat jiwanya berlari. Melepas hasrat yang tak mau dilepas. Sebab rindu tetap saja rindu. Puisi tak akan pernah sanggup menyelesaikannya. Sebab memang begitulah hukumnya; hanya sentuhan fisik yang bisa mengobati hasrat jiwa.

Anis Matta

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with cinta at langit LANGIT.