Aku Mencintaimu Tanpa Batas

Maret 19, 2010 § 18 Komentar

“Aku mencintaimu tanpa batas.”
Begitu salah satu baris puisi yang dipersembahkan oleh Pepeng untuk istri tercintanya, Ibu Tami, dan dibacakan oleh Ibu Tami sambil menahan tangis haru di satu jam lebih dekat, salah satu acara di stasiun tv swasta semalam.

Kereeen. Untuk perjuangan hidupnya dan penerimaannya terhadap penyakit Multiple Sklerosis, jenis penyakit langka yang diderita oleh satu orang dari 2 juta orang di dunia, yang telah dideritanya selama empat tahun terakhir ini. Untuk semangatnya. Senyumnya yang tak pernah lepas. Untuk Ibu Tami.

Benar-benar orang pilihan. Keluarga pilihan. ‘Dipilih’ dari 2 juta manusia lain untuk merasakan penyakit itu. Dan pilihaannya untuk menerima takdir dengan ikhlas membuatnya benar-benar menjadi manusia pilihan yang istimewa.
“Bagaimana proses Bang Pepeng berdamai dengan penyakit ini?” salah satu pertanyaan Indi Rahmawati.
“ Waah….peperangannya dahsyat. Ada perdamaian, pasti setelah terjadi peperangan, bukan?”
*****
Sungguh. hebat.
Untuk keikhlasannya. Untuk semangat hidupnya. Dengan kondisi badan yang mengharuskan berbaring di tempat tidur selama 24 jam, beliau berhasil menyelesaikan kuliah S2nya. Tak hanya itu, tapi banyak hal lain yang dilakukan, termasuk menjadi dosen tamu di salah stu perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Malu.
Malu sebagai seseorang yang sehat wal afiat. Bisa pergi ke mana pun yang aku mau dan melakukan apa pun ternyata tidak membuat diri memiliki kreativitas dan semangat sebesar beliau. Tidak berjiwa besar seperti beliau. Banyak mengeluh dan bertanya pada Tuhan tentang sesuatu yang tidak dimiliki, padahal yang dimiliki lebih banyak.

office
nice jumat

Iklan

Pesona Jiwa Raga

Oktober 21, 2009 § 2 Komentar

Pesona Jiwa Raga

Anis Matta - Pesona Jiwa RagaPada mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya.
Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.

Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.

Biasnya adalah ketidakjujuran yang selalu mendorong kita memenangkan salah satunya: jiwa dan raga. Jangan pernah pakai “atau” disini. Pakailah “dan”: kata sambung yang menghubungkan dua pesona itu. Sebab kita diciptakan dengan fitrah yang menyenangi keindahan fisik. Tapi juga dengan fakta bahwa daya tahan pesona fisik kita ternyata sangat sementara. Lalu apakah yang akan dilakukan sepasang pecinta jika mereka berumur 70 tahun? Bicara. Hanya itu. Dan dua tubuh yang tidur berdampingan di atas ranjang yang sama hanya bisa saling memunggungi. Tanpa selera. Sebab tinggal bicara saja yang bisa mereka lakukan. Begitulah pesona jiwa perlahan menyeruak di antara lapisan-lapisan gelombang magnetik fisik: lalu menyatakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa apa yang membuat dua manusia bisa tetap membangun sebuah jangka panjang sesungguhnya adalah kebijakan jiwa mereka bersama.

Seperempat abad lamanya Rasulullah saw hidup bersama Khadijah. Perempuan agung yang pernah mendapatkan titipan salam dari Allah lewat malaikat Jibril ini menyimpan keagungannya begitu apik pada gabungan yang sempurna antara pesona jiwa dan raganya. Dua kali menjanda dengan tiga anak sama sekali tidak mengurangi keindahan fisiknya. Tapi apa yang menarik dari kehidupannya mungkin bukan ketika akhirnya pemuda terhormat, Muhammad bin Abdullah, menerima uluran cintanya. Yang lebih menarik dari itu semua adalah fakta bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak pernah berpikir memadu Khadijah dengan perempuan lain. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah saw hampir memutuskan untuk tidak akan menikah lagi.

Bukan cuma itu. Bahkan ketika akhirnya menikah setelah wafatnya Khadijah, dengan janda dan gadis, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tidak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang yang lebih baik darinya,“ kata Rasulullah saw.

Terlalu agung mungkin. Tapi memang begitu ia ditakdirkan: menjadi cahaya keagungan yang menerangi jalan para pecinta sepanjang hidup. Pengalaman di sekitar kita barangkali justru selalu tidak sempurna. Karena biasanya selalu hanya ada “atau” bukan “dan” dalam pesona kita. Atau bahkan tidak ada “dan” apalagi “atau”. Ketika pesona terbelah seperti itu, cinta pasti berada di persimpangan jalan, selamanya diterpa cobaan, seperti virus yang menggerogoti tubuh kita. Dalam keadaan begitu penderitaan kadang tampak seperti buaya yang menanti mangsa dalam diam.

Anis Matta

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with inspirasi at langit LANGIT.