Sedikiiit Lagi

Januari 18, 2010 § 4 Komentar

Lagi iseng buka foto-foto jadul. Jadi ingat kisah perjalanan ini. Perjalanan tahun 2007 awal. Berawal dari sms ajakan, “Teh tanggal 15 ikutan ya ke Dago Pakar, nemenin anak-anak,” kata panitia. Sebenarnya, waktu itu agak enggan sih (upzzz jadi ketahuan, hehehe..badan lg agak meriang ceritanya, terbukti pulangnya batuknya keluar), tapi ya mana tega mau bilang nggak.

Singkat cerita, ikutlah saya. Saya pikir hanya ke Dago Pakar ini. Kegiatan dipusatkan di sana, jadi tidak akan terlalu menguras fisik. Ternyata, Dago Pakar hanya start. Daaaan, finishnyaaaa….Maribaya… . Wow… Jarak Dago Pakar-Maribaya sekira 6 km dan yang lebih menakjubkan lagi, jalanan itu menanjak terus. Jarang datar, apalagi menurun. Hampir tidak ada.

Perjalanan dimulai. Menembus lorong gelap di Benteng Jepang dan seterusnya. Di awal perjalanan, tentu saja masih sumringah dan banyak ngobrol. Lama-lama semua seperti sepakat. Menghemat energi dengan diam dan berkonsentrasi pada jalanan sambil sesekali bergiliran mengulurkan air minum, minum sambil duduk. Di sepanjang jalan, sering sekali kami berpapasan dengan orang-orang dari arah atas. Dan, tak satu pun yang memilih arah yang sama pada saat itu dengan kami. Nice track untuk yang suka tantangan. Hehehe

Saat itu, yang ada di hati ada dua, antara pesimis dan penasaran. Pesimis, yaaa pasti bakal capek dan penasaran karena 3 tahun sebelumnya pernah melewati jalan ini dengan tujuan yang sama tapi tidak pernah sampai di Maribaya.

Pada perjalanan pertama itu, setelah berjalan sekira 2 jam, sedang tanda-tanda sampai di Maribaya belum terlihat, kami memutuskan untuk kembali saja. Tentu tidak mengambil jalan yang sama. Mengambil jalan pintas yang lebih cepat. Naik tebing, masuk hutan, rumah-rumah penduduk, ladang. Hm..

“Beneran kamu pernah lewat jalan ini?” kata seorang teman kepada teman lain yang memandu jalan.

“Pernah.” Jawabnya pasti.

“Yaa..meski agak-agak lupa, tapi pasti ga salah.”

“Emang kapan kamu lewat sininya?” kata teman meyakinkan diri sendiri.

“Hehehe…pas masih SD.”

Semua sedikit terkejut dan tersenyum getir. Bukan meragukan ingatan teman ini, tapi hanya nggak yakin. SD dan kuliah tingkat 2 jaraknya nggak pendek.

Akhir cerita, perjalanan (benar-benar jalan kaki) yang kami mulai jam 8 pagi itu baru berhenti ketika kami mendengar azan Zuhur dari kejauhan. Saat itulah kami baru menemukan jalan raya dan angkot yang bisa ditumpangi setelah nyasar entah ke mana.

Kembali ke perjalanan kedua. Sesampai di jembatan (jembatan tempat perjalanan pertama berakhir) kami sempat foto-foto.

Kemudian, 10 menit berjalan menyeberangi jembatan itu sampailah kami di Maribaya. Ha?! Maribaya! Setengah tak percaya saya melihat telah berada di pintu gerbang Maribaya dan segera teringat perjalanan pertama.

Coba saja dulu kami tidak ‘menyerah’ di jembatan itu. Pasti kami tidak akan tersesat. Pasti kami akan sampai di Maribaya. Pasti kami…

Begitulah kadang kita menjalani hidup ini. Terkadang kita meninggalkan sesuatu yang telah kita mulai dan perjuangkan sekian lama karena sudah merasa lelah dan seperti tidak akan mendapatkan hasil. Padahal, jika diteruskan dengan bersabar sedikiiit saja ternyata hasil itu tinggal beberapa langkah di depan kita. Sedikiiit lagi… .

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with maribaya at langit LANGIT.