IBF Award ke-11

Maret 12, 2012 § 8 Komentar

Ah, begitu baiknya Ia.

Begitu pemurahnya Ia memberi penyebab tersenyum padaku. Setelah kejutan di bulan sebelumnya, Ia memberi kejutan lagi.

Suatu pagi, ada sebuah undangan berwarna hijau mampir di meja kerjaku yang [selalu] berantakan oleh tumpukan buku yang sebenarnya belum tentu dibaca. Di depan undangan itu ada namaku tertulis, hmm..tepatnya nama penaku. Wuiihhh..rasa-rasanya itulah undangan paling mendebarkan di antara undangan-undangan yang aku terima sejak dulu.

« Read the rest of this entry »

Menikmati Proses

Februari 15, 2010 § 16 Komentar

Seringkali rasa useless datang saat kita melihat orang lain lebih hebat dari kita dan telah meraih kesuksesan. Takjub. Di bidang apa pun itu. Itu sih yang kadang (atau sering ya?) saya rasakan. Membaca buku (jadi ngerucut ke buku nih..:-) ) yang dulu ‘hanya’ membuat saya berpikir tentang isinya yang bagus, sekarang bertambah satu lagi pikiran, hebat penulisnya bisa menggerakkan orang lain melalui tulisannya. “Bisa nggak ya aku seperti mereka?” Itu pertanyaan selanjutnya yang muncul.

“Jangan hanya melihat kesuksesannya sekarang aja, Ka.” Kata Bunda Nanit suatu ketika, saat berbagi perjalanannya di dunia tulis-menulis. “Coba kamu korek kisah perjuangannya menuju ke sana. Kegigihannya, dan apa usaha yang telah dilakukan, kemudian tirulah.”

Apa pun dalam hidup ini pasti membutuhkan proses. Dan, hanya mereka yang berhasil menikmati proseslah yang akan keluar menjadi pemenang. Mereka yang tidak bisa menikmati proses, merekalah pecundang yang hanya berpikir mendapatkan segala sesuatu dengan instan.

Nah, bagaimana menikmati proses inilah yang menarik. Menikmati proses ala orang hebat tentu bukan hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Menikmati proses bukan hanya menunggu momentum, tapi menciptakan. Lalu, bagaimana cara orang hebat menikmati proses?

Share pendapat aja ya..berdasarkan hasil amat-mengamati kecil-kecilan, saya mendapatkan beberapa poin untuk menasihati diri sendiri. Cek..cek..cekidot… 

a. Menjadi musuh utama malas
Hal yang belum bisa saya lakukan. Saya tidak suka konflik jadi daripada memusuhi mendingan saya berdamai. Hehehe. Meskipun tahu kalau berdamai dengan malas seperti bunuh diri secara perlahan-lahan.
b. Miliki target
Hasil ngobrol-ngobrol dengan Mbak Ryu (sebenarnya sudah sering disampaikan oleh penulis-penulis senior juga, hanya ini lebih terasa karena disampaikannya baru dan bertatap muka lagi.
“Memang harus punya target Ka,” katanya. “Aku punya target sehari aku harus punya satu tulisan, apa pun itu. Kalaupun tidak sempat menjadi sebuah tulisan yang utuh, minimal ide besarnya sudah ada.”
c. Disiplin
“Aku selalu maksain pulang kerja harus nulis meskipun baru lembur atau kerjaan di kantor lagi padet.” Masih kata mbak Ryu. Hee…aku mah, kebanyakan ngasih permisif ke diri sendiri, Mbak. Capai sedikit aja udah pengen memanjakan diri,” kata saya.
Disiplin…disiplin…disiplin… disiplin dengan target. Dengan usaha untuk mencapai target.
d. Berani mencoba
Ini sih mutlak harus. Mulai dari berani mencoba untuk menulis. mencoba untuk mempublish tulisan sampai mencoba mengirimkan ke penerbit.
e. Pantang menyerah
Tulisan ditolak sekali..dua..tiga…sepuluh…tidak boleh membuat kita menyerah. Karena cerita orang-orang sukses tidak pernah mengenal kata menyerah. Menerima banyak kritikan, bukan membuat mundur, tapi justru harus terus maju karena pada hakikatnya kritikan tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas tulisan kita.
f. Mengambil peluang melalui perlombaan.

Untuk weekend seru bareng Mbak Ryu 
sumber foto: http://i479.photobucket.com/albums/rr154/numallie/Graphics/write.jpg

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with menulis at langit LANGIT.