Membincang Peradaban

Januari 29, 2010 § 2 Komentar

Sungguh, kelu diri mengeja kata P-E-R-A-D-A-B-AN. Apalagi ketika menoleh, dan mendapati detak hari yang mengusang.

Mengikuti gerak mata ke deretan buku yang selalu berjajar rapi karena hanya bagian-bagian tertentu saja yang disentuh, mendapati sebuah judul Arsitek Peradaban (Anis Matta). Ada kata peradaban di sana, P-E-R-A-D-A-B-A-N.

Bukan untuk membincang isi buku itu, karena sudah banyak yang membincangkannya, membedah bukunya, bahkan menerapkan isinya. Hanya mengambil satu kata yang ada di sana. Peradaban.

Bukan juga membincang keadaan negeri yang sepertinya semakin carut marut saja. Meski keadaan negeri juga tak akan bisa lepas untuk menjadi wajah peradaban.

Tiba-tiba saja teringat tentang Peradaban Rabbani. Bagaimana hari-hari Rasulullah dan sahabat. Bagaimana mereka sukses membentuk sebuah Peradaban Rabbani yang gemilang dan hidup sepanjang masa meski mereka semua telah tiada di dunia.

Pun keberhasilan penghuni-penghuni akhir zaman ini mnjaga dan meneruskan warisan sang Nabi.

Kemudian mematut diri. Menelisik keseluruhan hari. Peradaban Rabbani pasti akan hadir di bumi ini. Pasti. Hanya, siapa pengusungnya? Apa diri ini menjadi salah satu bagian? Mematut kembali.

Jika hanya selalu mengalah pada hari yang kamu lakukan. Jika selalu mengeja detik yang dipertahankan. Jika hanya berdecak melihat kebaikan orang lain dan rela menggelincirkan diri pada jalan yang pekat. Jika…. Mana mungkin Peradaban Rabbani akan muncul di rumah hatimu. Seberapa pun ingin dirimu.

office,
nice Jum’at

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with peradaban at langit LANGIT.