Sesederhana Mimpi Epul

Maret 3, 2010 § 29 Komentar

Perempatan Buah Batu, 12: 30 WIB
“Dorogdog…dorogdog…dorogdog.”
“Barade…Pak, Bu.”

Epul dengan gesit beralih dari satu mobil ke mobil yang lain menawarkan dagangannya. Seperti sebuah harmoni alam, dia sudah memiliki gerak reflek meloncat ke tengah jalanan saat lampu di perempatan berwarna merah. Dari satu sisi ke sisi yang lain. Begitu seterusnya tanpa salah ke arah lampu yang masih menyala hijau.

“Jang, sini!” teriak seorang ibu dari dalam mobil.
Setengah berlari Epul mendekati mobil itu dengan sumringah.
“Dorogdog, Bu? Masih renyah,” Epul melanjutkan kata-katanya sambil sesekali menyeka peluh di dahinya.
Dari dalam mobil si ibu tersenyum sambil mengeluarkan uang Rp. 5000
“Ini buat Ujang,” mengulurkan uang kepada Epul masih sambil tersenyum.
“Bentar ya, Bu.” Epul tidak langsung menerima lembaran lima ribuan itu, tetapi justru sibuk mengambil 5 bungkus dorogdog dari dalam kantong jualannya.
“Jang,” panggil si ibu. “Ambil ini saja, Ibu lagi nggak ingin dorogdog, Cuma ingin ngasih ini ke Ujang.”
Epul bengong, kemudian tersenyum.
“Maaf,Bu, pesan ibu saya, saya tidak boleh meminta-minta atau menerima uang tanpa bekerja.”
“Tapi ini ibu yang kasih. Kamu nggak minta-minta.”
Tetap saja, Bu, Epul dapatnya cuma-cuma.”

Mendengar perkataan Epul, ibu itu terkesima. Tidak mengira akan mendapatkan jawaban seperti itu dari anak jalanan seperti Epul. Biasanya, anak jalanan akan senang bila dikasih uang. Epul sudah akan beranjak, dan ibu itu pun buru-buru meminta 5 bungkus dorogdod ke Epul sambil menyerahkan satu lembar 5 ribuan meski sebenarnya sedang tidak ingin membeli dorogdod.
*****
Bawah pohon pinisium, Pojok perempatan Buah Batu, 16: 15 WIB
Meski gerimis, perempatan lampu merah ini semakin ramai. Maklum, hari Sabtu banyak mobil berplat nomor luar kota yang melintas dari arah gerbang tol untuk masuk ke kota Bandung. Epul duduk terkantuk-kantuk di bawah salah satu pohon pinisium.

Bruuuuukkkkk…. Epul terlonjak kaget. Tas ransel besar mendarat tepat di samping tubuhnya seketika menghilangkan kantuknya. Antara terkejut dan takut, Epul menegakkan punggungnya, beringsut sedikit, mengedarkan pandangan ke sekitar. Tidak ada tanda-tanda ada yang janggal. Semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing seakan-akan hanya Epul yang tahu keberadaan ransel itu.
Dengan keberanian yang dipaksakan, Epul membuka sedikit resleting tas dan melongokkan pandangannya ke dalam tas.

“Ha??!!.” Mulut Epul ternganga saking kagetnya melihat isi ransel. Badannya menggigil. Antara rasa senang, takut, dan penasaran menjadi satu. Untuk beberapa saat, Epul bergeming. Ingatannya melayang pada obrolannya Kamis sore dengan Euis adiknya ketika dia sedang memasukkan uang ke kotak tabungannya yang terbuat dari bambu.

“A’ kalau monas itu di Jakarta ya? Jakarta itu jauh nggak A’? Nanti, kalau tabungan A Epul dah banyak, Euis pengen diajak ke sana.”
“Iya, di Jakarta. Nggak jauh kok. Nanti, kalau tabungan A’ Epul sudah banyak, pasti Aa’ ajak Euis ke sana. Nanti kita naik ke atasnya.”
“Bisa naik ya A’?”
“Iya.” Jawab Epul sambil mengelap matanya yang mulai mengembun teringat dulu dia pernah diajak bapaknya ke sana waktu bapaknya masih ada.
“Aku juga pengen ke jembatan Suramadu.” Euis merajuk.
“Siip!” jawab Epul penuh semangat. Kalau A’ Epul sudah banyak uang, Euis sama ibu akan A’ Epul ajak jalan-jalan keliling Indonesia. Buatin ibu warung lotek di depan rumah biar nggak usah lagi pergi-pergi seharian nyuci baju di rumah Bu Ratna, Bu Asih, dan Bu Rubi, Beli genting ke Wak Dudung, biar kalu hujan rumah kita nggak bocor lagi. Beli payung buat Euis juga, biar kalau pulang sekolah hujan Euis nggak kehujanan lagi. Teruuusss…apalagi yaaa.. . Oiya, Ibu mau dibeliin apa?” Epul menoleh ke ibunya yang sedang melipat baju-baju tetangga yang dicucinya dan dijawab dengan senyuman oleh ibunya.
“Rendaaang.” Epul akhirnya menjawab sendiri.
“Nanti, Ibu Epul beliin rendang.”
“Ke taman lalu lintas juga ya A’. Kata temen Euis, di sana enaaak banget buat main. Ada ayunannya, trus kereta api-kereta api-an, perosotan, pokoknya enak deh. Terus Euis juga pengen ke kebun binatang, pengen naik gajah. Kata Teh Asti di kebun binatang kita bisa naik gajah.”

Epul masih bergeming sambil mendekap erat ransel yang ada di dekatnya. Matanya berkaca-kaca ingat pagi tadi Euis, adiknya, demam tinggi dan kejang setelah kehujanan pulang sekolah kemarin sore dan ibunya yang mengompres Euis sambil tidak berhenti batuk-batuk. “Dengan uang ini, Ibu bisa menyuntikan Euis ke dokter dan mengobati batuknya. Epul juga bisa membayar SPP yang sudah 3 bulan belum dibayar. Jadi Epul bisa ikut UAN kelulusan SD 2 bulan lagi.” Pikir Epul.

“Epul…, “ kata ibu suatu malam saat Epul memijit kaki ibunya.
“Sesusah apa pun kamu, jangan pernah kamu jadi peminta-minta ya, Nak, karena Allah sangat benci orang yang minta-minta. Allah lebih menyayangi hamba-Nya yang bekerja keras. Setiap tetes keringat yang kamu keluarkan saat kamu bekerja itu bernilai pahala. Dan ingat selalu pesan bapak, jangan mengambil milik orang lain, meskipun kamu menemukannya kamu harus berusaha mengembalikan dulu karena mungkin saja barang yang kamu temukan itu sangat dibutuhkan pemiliknya.”

Epul tersentak ingat pesan ibunya. Mengintip lagi isi ransel, tapi kali ini dengan tujuan mencari alamat pemilik ransel itu. Dapat! Ada sebuah KTP bapak-bapak. Pak Husein, Jalan Ancol Timur.
Epul menutup resleting ransel, membawanya di punggung dan bergegas menuju alamat yang ditemukannya.
“Kata ibu, jika kita berbuat baik, pasti Allah akan membalas dengan kebaikan yang lebih banyak,” gumam Epul sambil tersenyum.
Cat:
Dorogdog: kerupuk kulit
Barade: bade: mau
Jang: panggilan untuk anak laki-laki

:. Kau menemukan sekoper uang dan bertualang dengannya…kali ini kopernya ditukar dengan ransel dan ditemukan oleh Epul anak jalanan. Dan Epul berhasil bertualang dengan ransel itu, dengan seindah-indah petualangan.

my room
21:37 WIB
03.03.10

Iklan

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with petualang at langit LANGIT.