Misi Dan Brown di Balik Novel-novelnya

September 15, 2012 § 13 Komentar

Tiba-tiba saja bertanya-tanya. Apa, ya, sebenarnya misi dari penulisan novel-novel konspirasi Dan Brown ini? Kok, bisa begitu saja lulus sensor pembesar-pembesar Yahudi dan bisa beredar bebas padahal isinya banyak mengungkap simbol-simbol mason lengkap dengan tempat-tempatnya. Hmm…sangat telat memang, karena karyanya “The Da Vinci Code” telah terbit beberapa tahun yang lalu. Kemudian, diikuti karya-karya yang lain dan yang terbaru (kalau belum ada yang lebih baru lagi) “The Lost Symbol” juga terbit lebih dari satu tahun yang lalu.

« Read the rest of this entry »

Akeelah and The Bee

September 7, 2012 § Tinggalkan komentar

Genre: Film drama
Tahun: 2006
Dari: Amerika

Cerdas. Bintang di kelas dan sekolahnya.Tapi, justru dianggap anak yang aneh dan menjadi bahan cemoohan teman-temannya. Dialah Akeelah Anderson, seorang gadis cilik berumur 11 tahun yang selalu unggul dalam pelajaran Bahasa Inggris tanpa belajar. Hobinya bermain scrable tanpa dia sadari membuatnya bertambah kosakata.

« Read the rest of this entry »

Pollyanna

April 19, 2012 § 3 Komentar

Judul                     : Pollyanna

Penulis                  : Eleanor H Porter

Genre                     : Novel anak

Penerbit                : OrangeBooks

Penerjemah         : Rini Nurul Badariah

Editor                     : Rinurbad & Dee

Cetakan  Mei 2010, 312 hlm

Tak perlu berlelah-lelah mencari. Karena ia ada di sini. Di hati kita sendiri. Itulah bahagia. Bahagia yang sebenarnya. Bahagia yang tak akan mudah pudar.

Ia akan hadir bersama dengan penerimaan hati, bersama buncahan syukur di dada, kesederhanaan dalam memandang sesuatu, dan ketepatan mengambil sudut pandang.

« Read the rest of this entry »

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Mei 30, 2010 § 12 Komentar

Genre : Fiksi

Judul: Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Republika

Tahun Terbit: Cetakan IV, Februari 2010

Takdir;

Semakin kau lawan, ia akan semakin menusukmu. Hanya satu cara untuk ‘menang’ darinya. Berdamailah dengannya.

Melalui ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu’ Tere Liye mengajak kita untuk bergelung dan berpikir tentang takdir. Bahwa hidup ini adalah sebab akibat yang saling berangkaian. Kepingan puzzle yang jika disatukan akan membentuk satu kesatuan yang utuh. Membaca novel ini, mungkin ada sebagian dari kita yang teringat sepotong syair lagu, ‘aku ada karena kau telah tercipta’, dan sepakat ada sepersekian kebenaran dalam syair itu. dan lirih akan berucap, subhanallah. Mahasuci Allah yang telah menciptakan hidup dengan keadilan-Nya yang indah.

Adalah Ray, pecinta rembulan, seorang yang tumbuh dengan nyanyian pukulan rotan, tempaan jalanan, berdarah-darah, dan meraih kesuksesan luar biasa. Tapi, tetap saja. Malam-malamnya dipenuhi dengan lima pertanyaan yang ‘mengganggu’nya. Pertama, mengapa (aku tinggal di) panti asuhan yang menyebalkan itu? Apakah aku memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih? Kedua, apakah hidup ini adil? Ketiga, Apa maksud semua ini, Tuhan? Kenapa Engkau mengambil yang aku cinta? Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi? Keempat, kenapa setelah semua yang kumiliki ternyata semuanya tetap terasa kosong, hampa? Kelima, kenapa aku harus mengalami sakit yang berkepanjangan ini?

Lima pertanyaan Ray dan kesempatan untuk mendapat jawabannya adalah inti dari novel ini.

Membaca novel ini, selain mengajak otak kita bermain-main dengan alur maju mundur yang dicampur apik, kita juga ‘dipaksa’ untuk mengikutsertakan hati. Mengingatkan kembali pada sebuah kalimat, ‘tak ada yang kebetulan dalam hidup ini’. berpikir bagaimana menyikapi takdir dan ‘memenangkannya’.

Ray, kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka semua kejadian pasti terjadi. Tidak peduli seluruh isi langit dan bumi menggagalkannya. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian tidak akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit dan bumi bersekutu melaksanakannya… .” Hal 213

Tak ada ruginya menjadikan buku ini sebagai antrian bacaan teman-teman selanjutnya dan ikut menyebarkan gagasan mulia Tere Liye tentang hidup. bahwa hidup ini sungguh sederhana. Bekerja keras, namun selalu merasa cukup. Mencintai berbuat baik dan berbagi. senantiasa bersyukur dan berterima kasih.

Antim, 20:40 WIB

29.05.10

Review Libri di Luca

Januari 20, 2010 § Tinggalkan komentar

Judul     : Libri di Luca (Rahasia Pencinta Buku)

Penulis : Mikkel Birkegaard

Genre   : Fiksi

Penerbit: Serambi

Halaman: 588

Finished!

Yakfiy!

Itu kata pertama kali yang ingin saya teriakkan. Selanjutnya, masih menyapukan pandangan ke seluruh ruang baca Bibliotheca yang berada di lantai atas. Buku berserakan, mayat bergelimpangan. Merasai bau hangus buku terbakar dan percikan-percikan listrik akibat kekuatan Jon Campelli sebagai Lektor pemancar yang dahsyat dan ulah organisasi bayangan. Di ujung, dekat mimbar, tampak Remer si ketua ordo organisasi bayangan sedang terus membaca buku hitam yang dipegangnya, tapi tampak jelas wajahnya tidak sesantai tadi, wajah pucat pasi dan darah mulai merembes dari lubang hidung dan telinganya. Dia sedang berjuang dengan maut akibat ketamakannya sendiri.  Sementara, Jon Campelli berjalan melintasi sambil tersenyum tipis, seakan mau mengatakan, “Kami tunggu Anda di Libri di Luca”. Dia berjalan dibantu Katherina karena kakinya terkilir saat berusaha melawan Remer. Mereka tampak sedikit terburu-buru.

Saya melongo kemudian menggumam, “Kira-kira aku pemancar atau penerima ya?”

Whooowww… . begitulah Mikkel Birkegaard  (saudaraan sama Kirkegaard , kah??) mengajak bertualang dari Kopenhagen, Denmark sampai ke Bibliotheca Alexandrina, Alexandria, Mesir. Berawal dari perpustakaan milik keluarga Campelli yang bernama Libri di Luca.

Tidak banyak orang yang tahu rahasia lain dari Libri di Luca, selain hanya melihat sebagai sebuah perpustakaan biasa. Kecuali, orang-orang yang sudah bergabung dengan organisasi pecinta buku. Anggota organisasi ini memiliki keistimewaan bisa mendengarkan orang yang sedang membaca dari jarak yang jauh dan bisa mengendalikan pikiran orang tersebut. Menggiring persepsi yang ditangkap dari bacaan tersebut sesuai dengan yang diinginkan, membantu konsentrasi membaca atau membuyarkan, sampai membuat orang malas membaca buku itu. Ini keahlian Lektor Penerima. Sementara, Lektor   Pemancar memunyai kekuatan memengaruhi orang melalui buku yang dibacakan oleh mereka. Membacakan cerita dan membuat pendengarnya tenggelam bersamanya dalam cerita tersebut adalah keahliannya sambil memberikan tekanan emosi untuk lebih menguatkan cerita.

…..Sepertinya, Indonesia membutuhkan banyak Lektor berhati baik untuk mengadakan pembacaan terhadap orang-orang yang duduk di pemerintahan sehingga bisa menyuci otak mereka supaya pikirannya positif dan tidak pernah berpikir untuk korupsi…. ^_^.

Letupan kisah ini dimulai dengan terbunuhnya Luca Campelli, pemilik Libri di Luca setelah perjalanannya dari Mesir. Awalnya, semua orang menganggap kematian Campelli di perpustakaan sebagai suatu yang wajar, hingga terjadi pelemparan bom Molotov ke dalam perpustakaan itu. Jon Campelli, anak Luca, yang semula tidak terlalu peduli dengan ayah dan Libri di Lucanya mulai terusik kecurigaannya hingga memutuskan untuk minta diaktifkan sebagai Lektor.

Kematian Luca berbarengan dengan naik daunnya karier Jon sebagai pengacara. Jon mendapat kasus keren yang dapat melejitkan kariernya lebih tinggi lagi, yaitu kasus yang berhubungan dengan seorang pengusaha licin bernama Remer.

Jon tidak pernah mengira kalau pertemuannya dengan Remer justru merupakan awal dari perubahan hidupnya, karena ternyata Remer adalah seorang Lektor dari organisasi bayangan dan dalang dari pembunuhan ayahnya, Luca.  Ketika Remer mencium gerak Jon menyelidiki kematiaan ayahnya dan kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini, Remer tidak mau lagi menerima Jon sebagai pengacaranya dan ini mengakibatkan Jon dipecat dari kantor hukumnya.

Kisah selanjutnya dipenuhi dengan usaha Jon menguak organisasi bayangan dan berusaha menyatukan kembali Lektor penerima dan Lektor Pemancar yang sudah terpisah sekira 20 tahun. Serta tersadarkannya Jon bahwa Luca membuang Jon dari kehidupannya justru karena cintanya yang begitu besar pada Jon.

Pemecatan tanpa alasan yang diterima Jon dan keras kepalanya Remer ingin membeli Libri di Luca telah membuat Jon yakin Remer ada hubungannya dengan organisasi bayangan. Jon melacak Remer dan menemukan markasnya. Jon menyatroni markas tersebut tanpa menyadari kalau dia sedang dijebak karena ternyata ada pengkhianat di Libri di Luca.

Apa yang terjadi pada Jon? Jon disandra, dibawa ke Alexandria untuk dijadikan tumbal.

Di dunia nyata pun, benarlah kalau buku itu memiliki kekuatan untuk memengaruhi pikiran pembacanya. Menyuci otaknya dan akhirnya berperilaku seperti yang diinginkan penulis.

Keterlibatan saya sendiri dalam perjalanan Campelli dimulai saat ‘iseng’ search buku baru, baca judul yang unik terus kata-kata ‘rahasia pecinta buku’ langsung memasukkan judul ini ke list. Apalagi ketika ada kata Bibliotheca Alexandrina 😀 . Tapi, sempat tergilas hari sih, dan ingat saat ada teman tanya, “Novel yang tentang rahasia pecinta buku itu apa judulnya?” Daaannn….wuuusss…langsung terpatri, Aku harus beli! Meski sempat kehilangan greget di tengah cerita, dan terganggu dengan ‘interaksi’ Jon-Katherina, membaca dan membeli buku ini tidak membuat saya kecewa. Mungkin, jika karakter tokohnya diperkuat dan konfliknya dipertajam akan lebih yummy… .

15:08 WIB

20.01.10

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with review at langit LANGIT.