Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Mei 30, 2010 § 12 Komentar

Genre : Fiksi

Judul: Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Republika

Tahun Terbit: Cetakan IV, Februari 2010

Takdir;

Semakin kau lawan, ia akan semakin menusukmu. Hanya satu cara untuk ‘menang’ darinya. Berdamailah dengannya.

Melalui ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu’ Tere Liye mengajak kita untuk bergelung dan berpikir tentang takdir. Bahwa hidup ini adalah sebab akibat yang saling berangkaian. Kepingan puzzle yang jika disatukan akan membentuk satu kesatuan yang utuh. Membaca novel ini, mungkin ada sebagian dari kita yang teringat sepotong syair lagu, ‘aku ada karena kau telah tercipta’, dan sepakat ada sepersekian kebenaran dalam syair itu. dan lirih akan berucap, subhanallah. Mahasuci Allah yang telah menciptakan hidup dengan keadilan-Nya yang indah.

Adalah Ray, pecinta rembulan, seorang yang tumbuh dengan nyanyian pukulan rotan, tempaan jalanan, berdarah-darah, dan meraih kesuksesan luar biasa. Tapi, tetap saja. Malam-malamnya dipenuhi dengan lima pertanyaan yang ‘mengganggu’nya. Pertama, mengapa (aku tinggal di) panti asuhan yang menyebalkan itu? Apakah aku memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih? Kedua, apakah hidup ini adil? Ketiga, Apa maksud semua ini, Tuhan? Kenapa Engkau mengambil yang aku cinta? Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi? Keempat, kenapa setelah semua yang kumiliki ternyata semuanya tetap terasa kosong, hampa? Kelima, kenapa aku harus mengalami sakit yang berkepanjangan ini?

Lima pertanyaan Ray dan kesempatan untuk mendapat jawabannya adalah inti dari novel ini.

Membaca novel ini, selain mengajak otak kita bermain-main dengan alur maju mundur yang dicampur apik, kita juga ‘dipaksa’ untuk mengikutsertakan hati. Mengingatkan kembali pada sebuah kalimat, ‘tak ada yang kebetulan dalam hidup ini’. berpikir bagaimana menyikapi takdir dan ‘memenangkannya’.

Ray, kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka semua kejadian pasti terjadi. Tidak peduli seluruh isi langit dan bumi menggagalkannya. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian tidak akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit dan bumi bersekutu melaksanakannya… .” Hal 213

Tak ada ruginya menjadikan buku ini sebagai antrian bacaan teman-teman selanjutnya dan ikut menyebarkan gagasan mulia Tere Liye tentang hidup. bahwa hidup ini sungguh sederhana. Bekerja keras, namun selalu merasa cukup. Mencintai berbuat baik dan berbagi. senantiasa bersyukur dan berterima kasih.

Antim, 20:40 WIB

29.05.10

Iklan

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with takdir at langit LANGIT.